Abstract: This qualitative study aims to analyze the implementation and effectiveness of the Equivalence Program (Packages A, B, and C) at PKBM Satria Karangbawang, Banyumas. This program functions as a crucial alternative education solution for citizens who cannot access formal education, including workers, out-of-school youth, and vulnerable groups. Using a descriptive case study method with data collection through interviews, observation, and documentation, the results indicate that the PKBM successfully delivers the program effectively through an inclusive and adaptive learning model. The program's success is underpinned by a flexible learning system based on andragogy, which adjusts schedules to suit adult learners. Despite facing significant challenges such as limited funding, simple infrastructure (like rented buildings), and a minimal number of tutors, the institution manages to sustain itself through efficient management, double-duty staffing, and pedagogical creativity. This finding concludes that internal commitment and management innovation are the dominant factors in the success of non-formal education, outweighing structural limitations. The program's impact is substantial, enhancing job qualifications, fostering self-confidence, and supporting educational equity in the Banyumas region. Abstrak: Studi kualitatif ini bertujuan menganalisis pelaksanaan dan efektivitas Program Kesetaraan (Paket A, B, dan C) di PKBM Satria Karangbawang, Banyumas. Program ini berfungsi sebagai solusi pendidikan alternatif yang krusial bagi warga yang tidak terjangkau pendidikan formal, termasuk pekerja, remaja putus sekolah, dan kelompok rentan. Menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, hasilnya menunjukkan bahwa PKBM berhasil menyelenggarakan program secara efektif melalui model pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Keberhasilan program ditopang oleh sistem pembelajaran fleksibel berbasis andragogi, yang menyesuaikan jadwal dengan peserta didik dewasa. Meskipun menghadapi tantangan signifikan seperti keterbatasan pendanaan, sarana prasarana sederhana (seperti bangunan sewaan), dan minimnya jumlah tutor, lembaga ini mampu bertahan melalui manajemen yang efisien, sistem kerja rangkap, dan kreativitas pedagogis. Temuan ini menyimpulkan bahwa komitmen internal dan inovasi manajemen menjadi faktor dominan dalam keberhasilan pendidikan nonformal, melampaui keterbatasan struktural. Dampak program ini substansial, meningkatkan kualifikasi kerja, menumbuhkan kepercayaan diri, dan mendukung pemerataan pendidikan di Banyumas.