Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a condition in which stomach acid frequently refluxes into the esophagus, causing symptoms such as heartburn and nausea. GERD is common among adolescents and may impair concentration, learning performance, and memory. Stress levels and dietary habits are considered important factors associated with GERD. This study aimed to determine the relationship between stress levels and dietary habits and the occurrence of Gastroesophageal Reflux Disease among senior high school students in Kajuara District, Bone Regency. This quantitative study employed a cross-sectional design with a purposive sampling technique involving 273 respondents. Data were collected using the Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), a dietary habits questionnaire, and the GERD-Q questionnaire. The results showed a significant association between moderate stress levels and GERD (34.9%; p=0.002). Significant associations were also found between meal frequency (p<0.001), types of food consumed (p<0.001), and GERD. Multiple logistic regression analysis indicated that consumption of irritating foods was the most dominant factor associated with GERD (OR=4.041; 95% CI: 2.294–7.120). In conclusion, stress levels and dietary habits, including meal frequency and food types, were significantly associated with the occurrence of Gastroesophageal Reflux Disease among senior high school students in Kajuara District, Bone Regency. ABSTRAK Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung sering naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan gejala yang mengganggu, seperti sensasi terbakar di dada (heartburn) dan mual. Kondisi ini banyak terjadi pada remaja serta dapat menurunkan konsentrasi belajar dan memengaruhi daya ingat. Tingkat stres dan pola makan merupakan faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian GERD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dan pola makan dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease pada siswa SMA dan MAN di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan teknik purposive sampling pada 273 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), kuesioner pola makan, dan GERD-Q. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami kemungkinan GERD dengan tingkat stres sedang (34,9%) (p=0,002). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi makan (p<0,001) dan jenis makanan (p<0,001) dengan kejadian GERD. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa jenis makanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian GERD (OR=4,041; IK95%: 2,294–7,120). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres serta pola makan, yang meliputi frekuensi makan dan jenis makanan, dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease pada siswa SMA dan MAN di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone.