Rubiyanto Widodo Haliman
Technology Division, PT. Central Proteina Prima Tbk, Puri Matari 2 Building Jl. HR Rasuna Said Kav H1- 2, Setiabudi, Jakarta 12920, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TANDA-TANDA TRANSISI EPIDEMIOLOGIS DALAM BUDIDAYA UDANG: DARI INFEKSI VIRUS AKUT MENUJU INFEKSI PARASIT KRONIS BERDASARKAN DATA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Ariel Hananya; Bestran Virlando Panjaitan; Beni Halaludin; Daniel Mastri Nugraha; Rubiyanto Widodo Haliman; Hendi Yanto Efendy; Dean Mikio Akiyama; Hendri Laiman
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 8 No 2 (2026): AQUANIPA - Jurnal Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya udang masih sangat rentan terhadap penyakit menular, yang terus menghambat keberlanjutan produksi. Secara historis, patogen virus akut seperti Infeksi Virus Myonecrosis (IMNV) dan Virus Sindrom Bintik Putih (WSSV) telah menjadi penyebab utama angka kematian yang signifikan. Namun, penelitian terkini menunjukkan peningkatan deteksi infeksi kronis, terutama Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), yang lebih memengaruhi kinerja pertumbuhan daripada menyebabkan kematian akut. Penelitian ini menganalisis data pemantauan lingkungan yang dikumpulkan dari wilayah budidaya udang utama di seluruh Indonesia selama periode 2020 hingga 2025 untuk mengevaluasi tren temporal dalam deteksi patogen. Metode berbasis PCR digunakan untuk memperkirakan frekuensi deteksi IMNV, WSSV, dan EHP. Dinamika temporal dievaluasi menggunakan analisis regresi linier berdasarkan nilai tahunan yang diperoleh dari catatan pemantauan. Hasil menunjukkan tren penurunan untuk IMNV di wilayah produksi utama, terutama di Lampung (β ≈ -3,09% per tahun; R² = 0,82), yang mengindikasikan penurunan konsisten dalam frekuensi deteksi seiring waktu. Sebaliknya, WSSV menunjukkan kemiringan mendekati nol di seluruh wilayah (β berkisar antara -0,43 hingga 0,26; R² < 0,30), yang menunjukkan persisten endemik yang stabil. EHP menunjukkan tren peningkatan di beberapa wilayah utama, termasuk Sulawesi (β ≈ 1,94% per tahun; R² = 0,65) dan Jawa Tengah (β ≈ 1,77; R² = 0,55), meskipun peningkatan ini tidak merata di seluruh wilayah. Temuan ini mengungkap dinamika temporal yang berbeda-beda di antara patogen udang utama, yang ditandai dengan penurunan deteksi infeksi virus akut, keberadaan virus endemik yang stabil, serta peningkatan deteksi infeksi parasit kronis. Meskipun pola-pola ini tidak merupakan bukti definitif adanya transisi epidemiologis, pola-pola tersebut memberikan dukungan kuantitatif dan observasional yang konsisten terhadap adanya pergeseran dalam struktur relatif deteksi patogen di dalam sistem budidaya perairan. Pergeseran ini memiliki implikasi penting bagi strategi pengelolaan penyakit, yang menekankan perlunya melengkapi pencegahan wabah akut dengan pendekatan yang menargetkan infeksi kronis dan kendala produktivitas jangka panjang.