Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan PT. Telkom Indonesia (Persero), Tbk pada tahun anggaran 2020–2024 berdasarkan rasio Return On Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Debt to Asset Ratio (DAR), dan Total Asset Turn Over (TATO), serta menganalisis perkembangan (pertumbuhan) masing-masing rasio tersebut selama periode pengamatan. Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan PT. Telkom Indonesia (Persero), Tbk periode 2020–2024 yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, kemudian data dianalisis dengan menghitung rasio ROA, NPM, DAR, dan TATO serta membandingkannya dengan standar rata-rata industri. Temuan – Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ROA sebesar 11,15% (di bawah standar industri 30%), rata-rata NPM sebesar 21,25% (di atas standar industri 20%), rata-rata DAR sebesar 47,12% (di atas standar industri 35%, padahal semakin rendah semakin baik), dan rata-rata TATO sebesar 0,52 kali (di bawah standar industri 2 kali). Dengan demikian, kinerja keuangan perusahaan dinilai kurang baik pada aspek ROA, DAR, dan TATO, namun dinilai baik pada aspek NPM. Dari sisi pertumbuhan, ROA, DAR, dan TATO menunjukkan tren pertumbuhan rata-rata negatif, sementara NPM relatif lebih stabil meskipun tetap berfluktuasi. Keterbatasan penelitian – Penelitian ini hanya menggunakan empat rasio keuangan (ROA, NPM, DAR, dan TATO) pada satu perusahaan tunggal sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perusahaan di sektor telekomunikasi. Penelitian ini juga bersifat deskriptif tanpa pengujian statistik inferensial maupun perbandingan langsung dengan kinerja perusahaan pesaing dalam industri yang sama. Implikasi – Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa PT. Telkom Indonesia (Persero), Tbk perlu meningkatkan efektivitas pengelolaan aset dan efisiensi perputaran aset untuk menghasilkan penjualan, sekaligus menjaga struktur pendanaan agar ketergantungan terhadap utang tidak meningkat, meskipun efisiensi operasional perusahaan dalam menghasilkan laba dari penjualan (NPM) sudah cukup baik. Kebaruan – Kebaruan penelitian ini tidak terletak pada pembaruan periode semata, melainkan pada dua hal. Pertama, penelitian ini mempersoalkan ketepatan penggunaan tolok ukur rata-rata industri konvensional (ROA 30% dan TATO 2 kali) pada industri telekomunikasi yang bersifat padat modal, dan menawarkan pembacaan alternatif berbasis analisis tren internal antarwaktu. Kedua, penelitian ini menyoroti fenomena spesifik industri telekomunikasi pascapandemi, yaitu terjadinya ekspansi aset infrastruktur digital yang belum diimbangi pertumbuhan pendapatan sepadan, sehingga menghasilkan pola penurunan ROA dan TATO di tengah margin laba (NPM) yang tetap terjaga di atas standar industri.