Yafi Firdaus
Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH LITERASI KEUANGAN TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI DENGAN FOMO DAN TOLERANSI RISIKO SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA ANGGOTA KOMUNITAS PONYIN HUB Yafi Firdaus; Tuty Sariwulan; Siti Nurjanah
Jurnal Penelitian Ekonomi dan Manajemen (JPEM) Vol. 1 No. 3 (2026): Jurnal Penelitian Ekonomi dan Manajemen (JPEM)
Publisher : PT Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/jpem.v1i3.26

Abstract

Pertumbuhan investor cryptocurrency di Indonesia yang sangat pesat didominasi oleh generasi muda digital native, namun literasi keuangan mereka belum sepenuhnya sejalan dengan tingginya volatilitas pasar dan mekanisme perdagangan yang berlangsung tanpa jeda selama dua puluh empat jam, kondisi yang kerap memicu euforia berlebihan dan bias perilaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh literasi keuangan terhadap keputusan investasi, dengan Fear of Missing Out (FOMO) dan toleransi risiko sebagai variabel mediasi paralel pada anggota Komunitas Ponyin Hub. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui metode survei terhadap sembilan puluh empat anggota aktif komunitas yang berinvestasi pada aset cryptocurrency, dipilih dengan teknik purposive sampling, dan data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling dengan SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap FOMO serta toleransi risiko, dan juga berpengaruh positif terhadap keputusan investasi; FOMO dan toleransi risiko masing masing berpengaruh positif terhadap keputusan investasi; serta keduanya memediasi secara parsial hubungan antara literasi keuangan dan keputusan investasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pada aset kripto, khususnya memecoin, literasi keuangan tidak selalu meredam impulsivitas, melainkan justru memperluas keterpaparan informasi yang memicu FOMO, sehingga edukasi kripto perlu turut mengelola aspek emosional selain aspek teknis finansial.