Penelitian ini mengkaji ulang pendidikan bahasa dan budaya Jepang pra-keberangkatan di Lembaga Pengirim Indonesia melalui pendekatan autoetnografi praktisi. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara pembelajaran pra-keberangkatan dan realitas komunikasi serta budaya kerja di Jepang yang dialami pemagang teknis. Tujuan penelitian adalah menganalisis pelaksanaan pendidikan pra-keberangkatan, mengidentifikasi kesenjangan pembelajaran, serta merumuskan perbaikan model pendidikan yang lebih kontekstual. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan autoetnografi analitis. Data diperoleh dari dokumen kurikulum lembaga, angket terhadap 86 alumni pemagang teknis, serta 45 catatan kasus konsultasi dan pengaduan, yang dianalisis melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan pra-keberangkatan telah menekankan nilai disiplin, 5S, sopan santun, dan hou-ren-sou, namun masih terdapat kesenjangan signifikan dalam kemampuan komunikasi praktis, pemahaman istilah teknis, serta adaptasi terhadap variasi bahasa dan budaya kerja di Jepang. Temuan ini juga menegaskan bahwa pendekatan autoetnografi praktisi memberikan perspektif reflektif dalam mengevaluasi praktik pendidikan secara internal lembaga. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan kurikulum lembaga pengirim agar lebih berbasis praktik dan situasi kerja nyata. Kesimpulannya, pendidikan pra-keberangkatan perlu dikembangkan menjadi model yang lebih reflektif, kontekstual, dan berbasis situasi kerja nyata agar mampu meningkatkan kesiapan komunikasi dan adaptasi pemagang teknis di Jepang.