Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Penanganan Krisis Rantai Pasok pada Industri Migas Menggunakan Situational Crisis Communication Theory (SCCT): Studi Kasus PT Tiga Mas Musim Jaya Talitha Zain Salsabila; Joe Harrianto Setiawan
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 8 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i8.6027

Abstract

Industri minyak dan gas bumi memiliki rantai pasok kompleks dan berisiko tinggi sehingga gangguan teknis maupun logistik dapat berkembang menjadi krisis organisasi yang mengancam kelangsungan proyek, hubungan kontraktual, dan kepercayaan pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penanganan krisis rantai pasok PT Tiga Mas Musim Jaya menggunakan perspektif Situational Crisis Communication Theory (SCCT), khususnya jenis krisis, atribusi tanggung jawab, strategi respons, dan komunikasi pascakrisis. Penelitian menerapkan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat informan yang mewakili pimpinan perusahaan, kepala rantai pasok, hubungan masyarakat, dan pakar manajemen krisis, serta melalui studi dokumentasi. Informan dipilih secara purposif. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa, pengodean tematik berdasarkan SCCT, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis dipicu oleh kombinasi kerusakan peralatan, keterlambatan pengadaan komponen kritis, dan gangguan logistik eksternal. Krisis tergolong accidental cluster, tetapi perusahaan tetap menerima atribusi tanggung jawab yang tinggi karena posisinya sebagai kontraktor utama. Respons perusahaan memadukan instructing information, adjusting information, dan pendekatan yang mendekati rebuild strategy melalui pemulihan operasional, komunikasi intensif, dan pemeliharaan hubungan dengan klien. Pascakrisis, perusahaan melakukan evaluasi internal dan penguatan sistem rantai pasok. Disimpulkan bahwa penanganan krisis yang efektif memerlukan integrasi tindakan operasional, komunikasi transparan, dan pembelajaran organisasi.