Penelitian ini menilai potensi dampak lingkungan dari proses produksi sales gas di PT XYZ, Kabupaten Bojonegoro, menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) sebagai metode standar evaluasi kinerja lingkungan produk secara menyeluruh. Dengan meningkatnya kebutuhan energi nasional, industri gas bumi menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan peningkatan produksi dengan upaya keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menghitung jejak karbon serta dampak lingkungan lainnya dari seluruh tahapan produksi gas bumi dengan metode LCA berbasis ISO 14040/14044. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SimaPro versi 10.3.0.1 dengan metode ReCiPe 2016 pada level midpoint (H), mencakup cradle-to-gate dari eksplorasi hingga gas siap jual. Unit fungsional yang digunakan adalah 1 m³ sales gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi 1 m³ sales gas berkontribusi terhadap global warming sebesar 3,22 kg CO? eq, terrestrial acidification sebesar 0,008 kg SO? eq, dan freshwater eutrophication sebesar 0,00030 kg P eq. Identifikasi hotspot mengungkapkan bahwa Gas Turbine Generator (GTG) dan Dew Point Control Unit (DPCU) merupakan unit proses dengan kontribusi terbesar terhadap seluruh kategori dampak, terutama global warming, di mana GTG menyumbang 46,52% dari total emisi dihasilkan. Analisis ketidakpastian melalui simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa kategori global warming memiliki sensitivitas tertinggi terhadap variasi data konsumsi energi, dengan rentang ketidakpastian sebesar ±8%. Penelitian ini memberikan implikasi praktis penting bagi perusahaan migas untuk memprioritaskan strategi efisiensi energi dan pengendalian emisi pada unit GTG dan DPCU guna menurunkan dampak lingkungan secara signifikan. Temuan ini juga berkontribusi pada pengembangan literatur akademik mengenai penerapan LCA di sektor energi Indonesia yang hingga saat ini masih relatif terbatas.