Stephani Raihana Hamdan
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Komparatif Sensitivitas Interpersonal Mahasiswa Fatherless Emosional Berdasarkan Gender Irna Tri Meliana; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 905-912
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24143

Abstract

Abstract. Emotional fatherlessness has become an increasingly important topic in developmental psychology because it reflects the lack of emotional involvement of fathers in parenting. This condition may affect not only emotional development but also individuals' ability to establish healthy interpersonal relationships. This study aimed to examine differences in interpersonal sensitivity between male and female university students experiencing emotional fatherlessness. A quantitative comparative study with a cross-sectional design was conducted involving 170 university students aged 18–25 years who met the criteria for emotional fatherlessness based on the Nurturant Fathering Scale (NFS). Interpersonal sensitivity was measured using the Interpersonal Sensitivity Measure (IPSM). Data were analysed using descriptive statistics and an independent sample t-test. The findings revealed a significant difference in interpersonal sensitivity between male and female students with emotional fatherlessness (p = 0.035). Female students demonstrated higher interpersonal sensitivity than male students. These findings indicate that inadequate emotional involvement of fathers may influence psychosocial development differently across genders. The results are expected to contribute to psychoeducational programmes highlighting the importance of fathers' emotional involvement and to support the development of gender-sensitive psychological interventions. Abstrak. Fenomena fatherless emosional menjadi salah satu isu yang semakin banyak dikaji dalam psikologi perkembangan karena berkaitan dengan rendahnya keterlibatan emosional ayah dalam proses pengasuhan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi perkembangan emosi individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan membangun hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sensitivitas interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang mengalami kondisi fatherless emosional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 170 mahasiswa berusia 18–25 tahun yang memenuhi kriteria fatherless emosional berdasarkan Nurturant Fathering Scale (NFS). Sensitivitas interpersonal diukur menggunakan Interpersonal Sensitivity Measure (IPSM). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan sensitivitas interpersonal yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dengan kondisi fatherless emosional (p = 0,035). Mahasiswa perempuan memiliki tingkat sensitivitas interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman rendahnya keterlibatan emosional ayah memberikan dampak yang berbeda terhadap perkembangan psikososial berdasarkan gender. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program psikoedukasi mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan serta pengembangan intervensi psikologis yang mempertimbangkan kebutuhan laki-laki dan perempuan.
Kajian Adult Attachment pada Long Distance Relationship Lizzia Marsha Husein Nasution; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 1093-1102
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24327

Abstract

Abstract. Long Distance Relationships (LDRs) have become increasingly common among individuals in the emerging adulthood stage due to educational demands, occupational commitments, and geographical separation. Physical distance presents significant challenges for couples in maintaining emotional closeness, effective communication, trust, and relationship satisfaction. Individual differences in coping with these challenges are influenced, in part, by adult attachment, a pattern of attachment that develops early in life and continues to shape romantic relationships in adulthood. This study aims to examine the role of adult attachment in explaining the dynamics of long-distance romantic relationships through a literature review approach. The study employed a narrative literature review by examining books as well as national and international scholarly articles related to adult attachment and Long Distance Relationships. The findings indicate that secure attachment contributes to more open communication, higher levels of trust, and greater ability to maintain relationships adaptively. In contrast, anxious attachment and avoidant attachment are associated with greater relationship uncertainty, difficulties in establishing emotional intimacy, and lower relationship satisfaction. Overall, the review highlights that adult attachment theory provides an important conceptual framework for understanding the psychological dynamics experienced by individuals involved in long-distance romantic relationships. Abstrak. Long Distance Relationship (LDR) merupakan bentuk hubungan romantis yang semakin banyak dijalani oleh individu pada masa emerging adulthood akibat tuntutan pendidikan, pekerjaan, maupun faktor geografis. Keterpisahan secara fisik menyebabkan pasangan menghadapi tantangan dalam mempertahankan kedekatan emosional, komunikasi, kepercayaan, serta kepuasan hubungan. Perbedaan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh adult attachment, yaitu pola kelekatan yang berkembang sejak masa awal kehidupan dan berlanjut hingga hubungan romantis pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran adult attachment dalam menjelaskan dinamika hubungan romantis jarak jauh melalui pendekatan studi literatur. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan menelaah berbagai buku serta artikel ilmiah nasional dan internasional yang membahas adult attachment dan Long Distance Relationship. Hasil kajian menunjukkan bahwa secure attachment berkontribusi terhadap komunikasi yang lebih terbuka, tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, dan kemampuan mempertahankan hubungan secara adaptif. Sebaliknya, anxious attachment dan avoidant attachment berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian hubungan, kesulitan membangun kedekatan emosional, serta rendahnya kepuasan hubungan. Kajian ini menunjukkan bahwa teori adult attachment menjadi kerangka konseptual yang penting dalam memahami dinamika psikologis individu yang menjalani hubungan romantis jarak jauh.
Ketergantungan Akal Imitasi pada Mahasiswa Pengguna Chatbot Nazhira Qinthara Aulia; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 1513-1520
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26063

Abstract

Abstract. This study aims to describe the descriptive levels of Artificial Intelligence (AI) dependence among undergraduate chatbot users in Bandung across different semesters, while examining the effect of academic self-efficacy mediated by academic stress. This quantitative, cross-sectional study involved 235 active undergraduate students selected via quota sampling. Data were collected online using the ASSPSE, PAS, and DAI scales, and subsequently analyzed through cross-tabulation and Structural Equation Modeling (SEM) based on SmartPLS 3. The descriptive findings indicate that the high category of AI dependence is most dominant among third-year students (56.63%). Furthermore, the indirect effect test proves that academic self-efficacy does not exert a direct negative effect on AI dependence; instead, academic stress plays a significant role as a full mediator. Low academic confidence increases student stress due to task procrastination before ultimately driving AI usage as an emotional escape mechanism. Higher education institutions are advised to facilitate stress management programs and formulate formal regulations on AI utilization to minimize digital learning behavior dysfunction Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tingkat ketergantungan Artificial Intelligence (AI) pada mahasiswa aktif pengguna chatbot di Kota Bandung berdasarkan tingkatan semester, serta menelaah pengaruh efikasi diri akademik dengan mediasi stres akademik. Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan 235 mahasiswa aktif S1 yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan secara daring melalui skala ASSPSE, PAS, dan DAI, kemudian dianalisis berbasis SmartPLS 3 serta analisis tabulasi silang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat ketergantungan AI kategori tinggi paling dominan ditemukan pada mahasiswa tahun ketiga (56,63%). Sementara itu, uji efek tidak langsung membuktikan bahwa efikasi diri akademik tidak berpengaruh langsung terhadap ketergantungan AI, melainkan dimediasi secara sempurna oleh stres akademik. Efikasi diri yang rendah meningkatkan stres mahasiswa akibat penundaan tugas, sebelum akhirnya mendorong penggunaan AI sebagai mekanisme pelarian emosional. Perguruan tinggi disarankan memfasilitasi program manajemen stres dan menyusun regulasi resmi pemanfaatan AI demi meminimalkan risiko disfungsi perilaku belajar digital.