Dinda Dwarawati
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Work-Life Balance terhadap Quiet Quitting melalui Work Stress Karyawan GenZ Diana Mutiara; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 913-920
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24167

Abstract

Abstract. Generation Z employees, who now dominate the global and Indonesian workforce, tend to be more selective in defining work commitment and are reportedly more vulnerable to work stress than previous generations. One work behavior frequently associated with this generation is quiet quitting, a form of psychological withdrawal in which employees only fulfil minimum job requirements without formally resigning. This study examined the effect of work-life balance on quiet quitting through work stress as a mediator among Generation Z employees in Cilegon City. A quantitative, cross-sectional, correlational design was used with 108 Generation Z employees (born 1997-2005) selected through convenience sampling. Data were collected using three adapted Likert-scale instruments and analyzed with linear regression and the Hayes PROCESS Macro (Model 4, 5,000 bootstrap samples). Results showed that work-life balance had a significant negative effect on both work stress and quiet quitting, while work stress had a significant positive effect on quiet quitting. Work stress was found to partially mediate the effect of work-life balance on quiet quitting (indirect effect = -0.186; 95% CI: -0.364 to -0.009). These findings indicate that low work-life balance increases quiet quitting both directly and indirectly through elevated work stress, offering practical implications for organizations seeking to manage engagement among their Generation Z workforce. Abstrak. Generasi Z yang saat ini mulai mendominasi angkatan kerja global maupun Indonesia cenderung lebih selektif dalam memaknai komitmen kerja dan dilaporkan lebih rentan mengalami stres kerja dibandingkan generasi sebelumnya. Salah satu perilaku kerja yang banyak dikaitkan dengan generasi ini adalah quiet quitting, yaitu bentuk penarikan diri secara psikologis di mana karyawan hanya memenuhi tuntutan pekerjaan minimum tanpa mengundurkan diri secara formal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting melalui work stress sebagai mediator pada karyawan Generasi Z di Kota Cilegon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan korelasional, melibatkan 108 karyawan Generasi Z (lahir 1997-2005) yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan tiga skala Likert yang telah diadaptasi dan dianalisis dengan regresi linear serta PROCESS Macro Hayes (Model 4, bootstrapping 5000 sampel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap work stress maupun quiet quitting, sedangkan work stress berpengaruh positif dan signifikan terhadap quiet quitting. Work stress terbukti memediasi secara parsial pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting (indirect effect = -0,186; 95% CI: -0,364 sampai -0,009). Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya work-life balance meningkatkan kecenderungan quiet quitting baik secara langsung maupun melalui peningkatan work stress, sehingga memberikan implikasi praktis bagi organisasi dalam mengelola keterlibatan kerja karyawan Generasi Z.
Work-Life Balance, Self-Compassion, dan Burnout pada Psikolog: Studi Literatur Shazqia Amanda Putri; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 1289-1296
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25364

Abstract

Abstract. Psychologists work involves intense and sustained emotional engagement with clients, placing them at considerable risk of Burnout. This article presents a narrative literature review synthesizing three interrelated constructs relevant to this issue: Burnout, Work-Life Balance, and Self-Compassion. Anchored in the Job Demands-Resources (JD-R) framework, the review discusses how an imbalance between professional and personal life can function as a job demand that gradually depletes psychological resources, while Self-Compassion is examined as a personal resource that may buffer this depletion process. Sources were drawn from SINTA-accredited and Scopus-indexed journals, primarily published between 1974 and 2025. The review concludes that both Work-Life Balance and Self-Compassion are theoretically and empirically connected to Burnout, and proposes a conceptual framework together with four theoretical propositions positioning Self-Compassion as a potential psychological mechanism linking Work-Life Balance to Burnout among psychologists. This synthesis is intended as a conceptual foundation for further empirical testing on the psychologist population in Indonesia. Abstrak. Pekerjaan psikolog menuntut keterlibatan emosional yang intens dan berkelanjutan terhadap klien, sehingga menempatkan mereka pada risiko Burnout yang cukup besar. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur naratif yang mensintesis tiga konsep yang saling berkaitan dengan isu tersebut, yaitu Burnout, Work-Life Balance, dan Self-Compassion. Berpijak pada kerangka Job Demands-Resources (JD-R), tinjauan ini membahas bagaimana ketidakseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi dapat berfungsi sebagai job demand yang secara bertahap menguras sumber daya psikologis, sementara Self-Compassion ditelaah sebagai personal resource yang berpotensi meredam proses pengurasan tersebut. Sumber literatur dihimpun dari jurnal terakreditasi SINTA dan terindeks Scopus, terutama yang terbit pada rentang tahun 1974 hingga 2025. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa Work-Life Balance dan Self-Compassion sama-sama berkaitan secara teoretis maupun empiris dengan Burnout, serta mengajukan kerangka konseptual beserta empat proposisi teoretis yang menempatkan Self-Compassion sebagai kemungkinan mekanisme psikologis penghubung antara Work-Life Balance dan Burnout pada psikolog. Sintesis ini disusun sebagai landasan konseptual bagi pengujian empiris lebih lanjut pada populasi psikolog di Indonesia.
Kajian Literature Emotional Intelligence terhadap Work Life Balance pada Captain Pilot Valathanza Wibisono Putri; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 1297-1304
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25382

Abstract

Abstract. Work-life balance (WLB) refers to an individual's ability to balance work demands with personal life. One factor that may contribute to achieving this balance is emotional intelligence (EI), which is the ability to recognize, understand, and manage one's own emotions while maintaining positive relationships with others. This article aims to review previous studies on the relationship between emotional intelligence and work-life balance, particularly in the context of captain pilots, whose profession involves high levels of responsibility and work demands. This study uses a narrative literature review method by examining books and previous research related to emotional intelligence, work-life balance, and the relationship between these two variables. The findings indicate that emotional intelligence helps individuals manage work-related stress, reduce conflicts between work and personal life, and achieve a better balance between both domains. Most previous studies have reported a positive relationship between emotional intelligence and work-life balance, although several studies have found different results due to factors such as job characteristics, workload, and organizational support. Based on these findings, it can be concluded that emotional intelligence is an important factor in supporting work-life balance, particularly in professions with high levels of responsibility and work pressure, such as captain pilots. Abstrak. Work-life balance (WLB) merupakan kemampuan individu untuk menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam mencapai keseimbangan tersebut adalah emotional intelligence (EI), yaitu kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosinya serta membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji berbagai penelitian mengenai hubungan antara emotional intelligence dan work-life balance, khususnya pada profesi captain pilot yang memiliki tuntutan pekerjaan tinggi. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan menelaah berbagai buku dan artikel ilmiah yang membahas emotional intelligence, work-life balance, serta hubungan kedua variabel tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa emotional intelligence dapat membantu individu mengelola tekanan kerja, mengurangi konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta meningkatkan keseimbangan antara keduanya. Sebagian besar penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa individu dengan emotional intelligence yang lebih tinggi cenderung memiliki work-life balance yang lebih baik. Namun, beberapa penelitian menemukan hasil yang berbeda karena dipengaruhi oleh karakteristik pekerjaan, beban kerja, dan dukungan dari organisasi. Berdasarkan hasil kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emotional intelligence merupakan salah satu faktor yang penting dalam mendukung terciptanya work-life balance, terutama pada profesi dengan tingkat tanggung jawab dan tekanan kerja yang tinggi, seperti captain pilot.
Pengaruh Komitmen Organisasi dan Job Insecurity terhadap Turnover Intention PT X Annisa Intania Rizqa; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 1521-1528
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26129

Abstract

Abstract. Turnover intention is employees' tendency to leave an organization, which may increase recruitment and training costs, reduce productivity, and disrupt organizational stability. This study aimed to examine the effects of the dimensions of organizational commitment and job insecurity on turnover intention among operational employees at PT Best Agro International. A quantitative correlational design was employed involving 249 operational employees selected through convenience sampling. Data were collected using Organizational Commitment, Job Insecurity, and Turnover Intention scales that met validity and reliability requirements. Multiple linear regression analysis was conducted using IBM SPSS Statistics. The results showed that affective commitment had no significant effect on turnover intention (p = 0.143), whereas continuance commitment (p < 0.001) and normative commitment (p = 0.007) had significant negative effects. Job insecurity had a significant positive effect on turnover intention (p < 0.001). Simultaneously, the dimensions of organizational commitment and job insecurity significantly predicted turnover intention, with an Adjusted R² of 0.592, indicating that the model explained 59.2% of the variance in turnover intention. These findings suggest that strengthening continuance and normative commitment while reducing job insecurity may help decrease employees' turnover intention. Abstrak. Turnover intention merupakan kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi yang dapat berdampak pada meningkatnya biaya rekrutmen dan pelatihan, menurunnya produktivitas, serta terganggunya stabilitas organisasi. Berbagai faktor yang memengaruhi turnover intention, di antaranya adalah komitmen organisasi dan job insecurity. Komitmen organisasi dalam penelitian ini dipandang sebagai konstruk multidimensional yang terdiri atas komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, dan komitmen normatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dimensi komitmen organisasi dan job insecurity terhadap turnover intention pada karyawan operasional PT Best Agro International. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 249 karyawan operasional yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Komitmen Organisasi, Job Insecurity, dan Turnover Intention yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial komitmen afektif tidak berpengaruh signifikan terhadap turnover intention (p = 0,143), sedangkan komitmen berkelanjutan (p < 0,001) dan komitmen normatif (p = 0,007) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention. Job insecurity berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention (p < 0,001). Secara simultan, dimensi komitmen organisasi dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap turnover intention dengan nilai Adjusted R² sebesar 0,592, yang menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 59,2% variasi turnover intention. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan komitmen berkelanjutan dan komitmen normatif serta pengurangan job insecurity dapat menjadi strategi untuk menekan turnover intention.