Permasalahan backlog perumahan di wilayah metropolitan Jabodetabek merupakan isu struktural yang berkaitan dengan pertumbuhan urbanisasi, keterbatasan lahan, serta lemahnya integrasi antara sistem transportasi dan tata ruang. Dalam beberapa dekade terakhir, ekspansi kawasan permukiman ke wilayah suburban tanpa diimbangi dengan sistem transportasi publik yang memadai telah menimbulkan berbagai permasalahan seperti urban sprawl, kemacetan, serta ketimpangan akses terhadap hunian layak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Transit Oriented Development (TOD) muncul sebagai solusi strategis yang mengintegrasikan pembangunan kawasan dengan sistem transportasi publik massal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana TOD dapat menjadi solusi dalam penyediaan perumahan di wilayah Jabodetabek, dengan fokus pada kawasan Stasiun Rawabuntu dan Stasiun Pondok Cina sebagai representasi kawasan suburban dengan intensitas mobilitas tinggi. Metode yang digunakan adalah systematic literature review terhadap jurnal ilmiah terindeks Scopus dan Sinta dalam rentang waktu 2022–2025, yang dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, serta peluang implementasi TOD dalam konteks perumahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TOD memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, mendorong pembangunan hunian vertikal, serta meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi publik. Namun demikian, implementasi TOD di Jabodetabek masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain koordinasi kelembagaan yang belum optimal, ketidaksinkronan regulasi, keterbatasan skema pembiayaan, serta resistensi sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan policy orchestration yang kuat untuk memastikan integrasi kebijakan lintas sektor dalam mendukung keberhasilan TOD sebagai solusi perumahan berkelanjutan.