Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja seismik struktur gedung beton bertulang eksisting 8 lantai dan kondisi setelah penambahan 2 lantai menggunakan metode Incremental Dynamic Analysis (IDA). Pemodelan struktur dilakukan secara tiga dimensi menggunakan perangkat lunak SeismoStruct berdasarkan data as-built drawing serta mengacu pada SNI 1726:2019 dan SNI 2847:2019. Analisis dilakukan dengan menggunakan beberapa rekaman gempa yang telah diskalakan dan disesuaikan dengan spektrum respons wilayah studi. Respon struktur dianalisis secara nonlinier melalui analisis riwayat waktu bertahap hingga mencapai kondisi runtuh. Parameter utama yang ditinjau meliputi simpangan antar lantai (inter-story drift), perpindahan lateral, dan gaya geser dasar. Selain itu, kurva kerapuhan (fragility curve) disusun berdasarkan kriteria HAZUS MH-MR5 untuk mengevaluasi probabilitas kerusakan pada berbagai tingkat intensitas gempa. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur eksisting memiliki kinerja seismik yang lebih baik dibandingkan struktur setelah penambahan lantai. Penambahan massa dan tinggi bangunan menyebabkan peningkatan simpangan antar lantai serta mempercepat terjadinya perilaku nonlinier. Kurva kerapuhan menunjukkan pergeseran ke arah intensitas gempa yang lebih rendah pada kondisi struktur setelah penambahan lantai, yang mengindikasikan peningkatan tingkat kerentanan. Probabilitas terlampauinya batas kerusakan pada semua level (slight, moderate, extensive hingga complete damage) juga meningkat secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penambahan satu lantai tanpa perkuatan struktur menurunkan tingkat keandalan seismik bangunan. Untuk kasus ini tidak diperlukan tindakan retrofit untuk meningkatkan kapasitas struktur, karena masih memenuhi kinerja yang disyaratkan. Penambahan satu lantai pada struktur gedung menambah probabilitas kerusakan pada semua tingkat namun tidak signifikan dan nilainya kecil. Terlihat risiko terbesar ada pada kategori Complete dengan risiko 3,75 %