In the context of curriculum reform in Indonesia, this study investigates the main challenges faced by informatics teachers in implementing the Kurikulum Merdeka at SMPN 1 Katapang, including mismatches between textbook content and curriculum objectives, limited technological infrastructure, and low student motivation to use digital media. Additional challenges identified include increased workloads due to greater autonomy in lesson planning and assessment, limited access to technology and reliable internet, varying levels of teachers' digital competency, and challenges in adapting teaching materials to diverse student needs and rapid technological developments. This study used a qualitative approach involving interviews and classroom observations. The results show that teachers overcame these obstacles by adapting teaching materials, developing their own learning modules, utilizing available devices, and implementing interactive and collaborative learning methods through the MGMP. The study concludes that while challenges related to resources and materials persist, teachers' adaptability and innovation are crucial for the successful implementation of the curriculum. Therefore, increased support for professional development and infrastructure is needed to strengthen informatics education in Indonesian secondary schools. Â Abstrak Dalam konteks reformasi kurikulum di Indonesia, penelitian ini menyelidiki tantangan utama yang dihadapi guru informatika dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di SMPN 1 Katapang, seperti ketidaksesuaian antara isi buku pelajaran dan tujuan kurikulum, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta rendahnya motivasi murid terhadap media digital. Masalah tambahan yang diidentifikasi antara lain meningkatnya beban kerja akibat otonomi yang lebih besar dalam perencanaan pembelajaran dan penilaian, akses terbatas terhadap teknologi dan internet yang andal, tingkat kompetensi digital guru yang beragam, serta tantangan dalam menyesuaikan materi ajar dengan kebutuhan murid yang beragam dan perkembangan teknologi yang cepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang melibatkan wawancara dan observasi kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengatasi hambatan tersebut dengan menyesuaikan materi ajar, mengembangkan modul pembelajaran sendiri, memanfaatkan perangkat yang tersedia, serta menerapkan metode pembelajaran interaktif dan kolaborasi melalui MGMP. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun tantangan terkait sumber daya dan materi masih ada, kemampuan adaptasi dan inovasi guru sangat penting bagi keberhasilan implementasi kurikulum. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan dukungan terhadap pengembangan profesional dan infrastruktur guna memperkuat pendidikan informatika di sekolah menengah di Indonesia. Kata Kunci: guru Informatika; Kurikulum Merdeka; pengembangan profesional