Abil Ash
Institut Daarul Qur’an Jakarta, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TREND FASHION MUSLIM DALAM HADIS: Pemahaman Hadis tentang Memelihara Jenggot di Era Kekinian Abil Ash
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.439 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v2i2.115

Abstract

Hadis hendaknya tidak selalu dipahami dalam bingkai tekstual, namun perlu juga untuk memperhatikan sebuah hadis dalam bingkai sosio-historis dan konteks hadis tersebut. Dalam penulisan jurnal ini ingin menjawab pemahaman sebuah hadis tentang salah satu identitas seorang muslim yang membedakan dengan umat-umat agama lain, yakni memelihara jenggot. Perihal memelihara jenggot dalam sudut konteks kekinian tidaklah menjadi satu-satunya identitas seorang muslim. Sebagaimana pada masa-masa awal Islam, jenggot telah menjadi sebuah trend fashion yang dilaksanakan oleh siapapun tanpa memandang ada unsur nilai teologis atau tidak. Ada beberapa ulama hadis berbeda pandangan untuk memahami hadis tentang memelihara jenggot. Pertama, ulama hadis yang memahami hadis mengenai memelihara jenggot secara tekstual, seperti Nasir al-Din al-Albani, Abu Muhammad bin Hazm, Abd al-Aziz bin Baz. Mereka semua berpandangan bahwa memelihara jenggot merupakan perintah dari Nabi Muhammad saw yang harus dikerjakan dan merupakan bagian dari sunah. Kedua, ulama hadis yang memahami hadis tersebut secara kontekstual, seperti al-Syarbasi, al-Qaradawi, dan Syuhudi Ismail. Ulama hadis tersebut berpandangan memelihara jenggot pada hadis tersebut merupakan bentuk anjuran dan hal ini bukan bagian dari pada perintah atau sunah. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori pemahaman nash/teks double movement dari Fazlur Rahman untuk memahami hadis tentang memelihara jenggot dalam konteks kekinian. Pendekatan sosio-historis pun penulis gunakan untuk menemukan makna konteks ketika hadis tersebut ada atau muncul, kemudian dikorelasikan dengan konteks kekinian
HALAL HARAM DALAM PERSPEKTIF HADIS Abil Ash
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 1 (2022): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.831 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i1.123

Abstract

Masalah halal dan haram akan selalu dihadapi oleh kaum muslimin detik demi detik dalam rentang kehidupannya. Sehingga menandakan betapa pentingnya kita mengetahui secara rinci batasan antara halal dan haram. Mengetahui persoalan halal-haram ini kelihatan mudah sepintas, tetapi kemudian menjadi sangat sukar ketika berhadapan dengan kehidupan keseharian, yang kadang menjadi kabur, sulit membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Jika perkara halal dan haram kita tidak jeli dan hati-hati (ihtiyat), bisa jatuh pada hal yang samar-samar (syubhât). Ajaran agama Islam tidak lah seperti kaum ekstrimis kanan, misalnya: Kaum Brahmana Hindu, para rahib Kristen dan beberapa golongan lain yang berprinsip menyiksa diri dan menjauhi hal-hal yang baik dalam masalah makanan atau pakaian yang telah diserahkan Allah kepada hamba-Nya. Dan juga bukan kaum ekstrimis kiri, dapat dijumpai misalnya aliran Masdak yang muncul di Persia. Golongan ini menyerukan kepada kebolehan yang sangat meluas. Kendali manusia dilepaskan, supaya dapat mencapai apa saja yang dikehendaki. Segala-galanya bagi mereka adalah halal. Bangsa Arab di zaman Jahiliah merupakan contoh konkrit, betapa tidak beresnya barometer menentukan halal-haram suatu benda atau perbuatan. Oleh karena itu, membolehkan minuman keras, makan riba, menganiaya perempuan dan sebagainya. Ajaran Islam berdiri antara kaum ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri, membawa ajaran yang rahmatan lil alamin yang dibawa oleh sang Nabi penuh kasih sayang dan akhlaknya yang indah serta menawan. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan (library research). Sebagai data primer tulisan ini adalah kitab induk hadis. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Deduktif, Deskriptif dan Analisis
'ADALAH AL-RAWI PERSPEKTIF SUNNI DAN SYI'AH Abil Ash
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2022): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.18 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i2.127

Abstract

Sunni yang beranggapan bahwa semua sahabat itu adil. Sementara kelompok Syi’ah beranggapan sebaliknya, bahwa para sahabat tidak semuanya adil. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian tentang ‘adalah al-sahabat menurut Sunni dan Syi‘ah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode komparatif-analitis yaitu penulis memaparkan penjelasan umum tentang kajian ilmu hadis dan analisis terhadap kajian tersebut. Dalam penetapan keadilan para sahabat antara ulama Sunni dan Syi’ah sangat berbeda. Dalam penetapan tentang keadilan sahabat, ulama Sunni berargument bahwa predikat keadilan para sahabat itu bukan berdasarkan hasil ijtihad individu dan penelitian pada pribadi sahabat Nabi Saw, akan tetapi berdasarkan al-Qur’an, hadis, ijma ulama Sunni. Sedangkan ulama Syi’ah berargument seorang sahabat harus memenuhi syarat agar ia bisa dinyatakan sebagai sahabat yang ‘adil, diantaranya; Pertama, kekerabatan dan keturunan suci Nabi Muhammad Saw. Kedua, lebih dahulu menyatakan keimanan. Ketiga, tingkat ketakwaan. Keempat, tingkat keilmuan, khususnya ilmu agama. Kelima, mengakui kekhilafahan atas orang yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin syar’i pengganti dari Nabi Muhammad Saw. Tanpa disertai dengan rasa benci atau terpaksa. Persoalan keadilan sahabat ini termasuk salah satu hal yang sangat mendasar dalam studi ilmu keIslaman khhususnya ilmu hadis. ia akan berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya sebuah hadis yang sekaligus juga sebagai sumber hukum Islam kedua tertinggi di dalam Islam setelah al-Qur’ān
ANALISIS PERBANDINGAN ‘IMĀMAH DALAM TRADISI MUSLIM DAN NONMUSLIM PERSPEKTIF HADIS Alya Mardiyatul Choeriyah; Abil Ash
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 5 No. 1 (2024): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/alisnad.v5i1.380

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara detail perbedaan tradisi pemakaian ‘imāmah antara kaum Muslim dan non-Muslim dari perspektif hadis, serta mengaitkannya dengan penggunaan ‘imāmah di masa kini. Tema ini diangkat karena adanya hadis yang membahas tentang ‘imāmah, namun kualitas hadis tersebut belum banyak dikaji. Selain itu, tradisi memakai ‘imāmah tidak hanya terdapat di kalangan Muslim, tetapi juga non-Muslim, dengan bentuk dan gulungan yang sering kali terlihat serupa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan maudhu’i serta jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian terdiri dari sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar dalam tradisi pemakaian ‘imāmah oleh Muslim dan non-Muslim, baik dari segi bentuk, fungsi, maupun warna. Dalam Islam, ‘imāmah berupa kain serban yang dililitkan di sekitar qalansuwa (peci bulat), sedangkan dalam tradisi agama Sikh, ‘imāmah berupa lilitan kain di atas kepala tanpa peci. Pemakaian ‘imāmah di masa kini juga menunjukkan variasi, seperti ‘imāmah Yaman yang dikenakan oleh tokoh seperti Habib Umar bin Hafidz. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun terdapat kemiripan secara visual, ‘imāmah memiliki perbedaan esensial yang mencerminkan identitas agama masing-masing.
KESEHATAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF HADIS (Analisis Studi Hadis Tematik) Abil Ash; Ira Mulyani; Cindi Apriani
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 5 No. 2 (2024): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/alisnad.v5i2.515

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kesehatan mental dalam perspektif Hadis, didasari oleh tingginya kasus kesehatan mental di Indonesia yang diakibatkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan mental sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Gangguan kesehatan mental memunculkan dampak negatif yang signifikan, seperti penurunan produktivitas, kurang fokus, mudah emosi, kecemasan, serta kekhawatiran terhadap masa depan. Selain memengaruhi kesehatan fisik, gangguan ini juga berdampak pada hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana konsep kesehatan mental dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, dan apa solusi serta pedoman dalam mengatasi masalah kesehatan mental menurut Hadis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis Hadis tematik (maudu’i) dan pendekatan kepustakaan (library research) berbasis data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hadis Nabi Muhammad SAW memberikan panduan praktis dalam menjaga kesehatan mental, seperti menjaga lisan, menjauhi penyakit hati seperti cinta dunia berlebihan dan putus asa, menjaga keseimbangan ibadah, serta menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Selain itu, Hadis juga menekankan pentingnya keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat sebagai landasan utama untuk mencegah gangguan mental. Ajaran-ajaran ini tidak hanya relevan tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memberikan solusi yang aplikatif bagi individu maupun masyarakat dalam menghadapi tantangan kesehatan mental.