ABSTRAK. Kawasan Dukuh Atas di Jakarta telah mengalami transformasi signifikan dalam dua dekade terakhir, dari simpul transportasi konvensional menjadi kawasan transit terintegrasi dengan karakter ruang publik yang kuat. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan struktur ruang kawasan ini menggunakan pendekatan morfologi kota, menggabungkan mazhab Conzen (Inggris) dan géographie historique urbaine (Prancis), serta kerangka analisis tata kelola perkotaan. Penelitian dilakukan secara kualitatif-deskriptif dengan analisis spasial historis, observasi lapangan, serta studi dokumen proyek dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi morfologi Dukuh Atas berlangsung dalam empat fase (2004–2023), ditandai dengan perubahan fungsi jaringan jalan, pelapisan struktur ruang antarmoda, serta kemunculan ruang ketiga sebagai ruang interaksi sosial. Proyek-proyek seperti pedestrianisasi Terowongan Kendal, pembangunan MRT dan LRT, serta pembentukan badan pengelola kawasan TOD berperan penting dalam mengubah karakter fisik dan sosial kawasan. Temuan menarik lain adalah terbentuknya ruang publik yang relatif minim parkir kendaraan bermotor, berkat meningkatnya akses terhadap transportasi umum yang terintegrasi dan terjangkau. Studi ini menegaskan pentingnya membaca perubahan morfologi kota melalui kombinasi pendekatan spasial dan kelembagaan, terutama di konteks kota besar Asia Tenggara yang tengah mengalami tekanan modernisasi dan fragmentasi tata kelola. Kata Kunci: morfologi kota, tata kelola perkotaan, Dukuh Atas, ruang ketiga, TOD, Jakarta. ABSTRACT. The Dukuh Atas area in Jakarta has undergone a significant transformation over the past two decades, evolving from a conventional transport node into an integrated transit hub with vibrant public spaces. This article aims to explore the morphological transformation of the area using an urban morphology approach, combining the Conzenian tradition (UK) and the French géographie historique urbaine, alongside an urban governance framework. The research adopts a qualitative-descriptive method, employing historical spatial analysis, field observation, and a review of project and policy documents. Findings indicate that Dukuh Atas has experienced four distinct phases of transformation (2004–2023), marked by changes in street functions, the layering of multimodal structures, and the emergence of third spaces as sites of social interaction. Key interventions such as the pedestrianization of Kendal Underpass, the development of MRT and LRT systems, and the establishment of a dedicated TOD management body have reshaped the area’s spatial and social character. A notable finding is the creation of public spaces that are accompanied with relatively not much parked motorcycles, a rare condition in Jakarta, enabled by the increasing availability of integrated, high-quality, and affordable public transport. This study highlights the importance of reading urban morphological change through a combined spatial and institutional lens, especially in Southeast Asian metropolises undergoing modernization pressures and governance fragmentations. Keywords: urban morphology, urban governance, Dukuh Atas, third space, TOD, Jakarta