Perubahan nilai perusahaan di dalam industri barang konsumsi menjadi indikator nyata atas beragamnya respons pelaku pasar terhadap kesehatan finansial korporasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keterkaitan profitabilitas, likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap nilai pasar emiten consumer goods yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2021 hingga 2025. Melalui desain penelitian kuantitatif, analisis dijalankan dengan mengolah data sekunder berupa laporan keuangan yang diunduh dari sistem informasi BEI dan website resmi emiten yang bersangkutan. Melalui teknik purposive sampling, diperoleh 37 emiten sebagai sampel yang menghasilkan total 185 objek observasi selama masa pengamatan. Seluruh data tersebut dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda dibantu perangkat lunak IBM SPSS 26, melewati serangkaian tahapan mulai dari statistik deskriptif, uji prasyarat asumsi klasik, uji kelayakan model (F), koefisien determinasi, hingga uji parsial (t). Temuan empiris mengonfirmasi bahwa tingkat profitabilitas mempunyai pengaruh positif dan bermakna secara signifikan dalam menaikkan nilai perusahaan. Sebaliknya, indikator likuiditas memperlihatkan dampak negatif yang signifikan terhadap nilai pasar korporasi. Di sisi lain, kebijakan leverage maupun ukuran perusahaan kedapatan tidak memiliki pengaruh nyata secara statistik terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan perolehan nilai Adjusted R Square, kombinasi variabel profitabilitas, likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan memberikan kontribusi sebesar 67,2% dalam memproyeksikan fluktuasi nilai perusahaan. Di sisi lain, sisa variasi sebesar 32,8% ditentukan oleh komponen atau aspek eksternal lain yang berada di luar ruang lingkup pemodelan dalam penelitian ini. Temuan ini menegaskan relevansi signaling theory, di mana kemampuan menghasilkan laba menjadi sinyal utama bagi investor pada sektor consumer goods, sementara tingkat likuiditas yang terlalu tinggi justru dinilai sebagai indikasi inefisiensi pengelolaan aset. Implikasinya, manajemen perusahaan consumer goods perlu memprioritaskan peningkatan profitabilitas dan efisiensi pengelolaan aset lancar dibandingkan sekadar memperbesar skala aset atau struktur pendanaan, guna meningkatkan kepercayaan investor.