Ketersediaan rumput lapang yang fluktuatif, terutama saat musim kemarau, mengharuskan adanya alternatif pakan pengganti dalam menyediakan hijauan ternak. Limbah pertanian dapat dikonversi menjadi pakan berkualitas tinggi oleh ternak ruminansia. Kulit jengkol (Archidendron jiringa) merupakan salah satu limbah pertanian yang persentasenya (59,99%) lebih banyak dibandingkan bijinya, tinggi serat kasar (33,07-35,28%) serta mengandung tanin (1,22%) dan saponin (26,52%). Tujuan penelitian ini yaitu menggunakan kulit jengkol sebagai substitusi rumput lapang sebagai sumber serat bagi ternak domba. Variabel yang diteliti yaitu konsumsi nutrient yang meliputi bahan kering (BK), bahan organik (BO), lemak kasar (LK), protein kasar (PK), serat kasar (SK), bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), dan total digestible nutrient (TDN). Penelitian ini menggunakan domba jantan sebanyak 15 ekor dengan bobot badan 15-27 kg yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan (substitusi kulit jengkol 0,00; 15,0; 22,5% bahan kering/BK) dan lima kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi kulit jengkol sampai 22,5% meningkatkan (P<0,05) konsumsi BO (21,11%), PK (18,20%), SK (20,49%), BETN (22,93%), dan TDN (16,65%) serta menurunkan konsumsi LK (13,22%) dibandingkan kontrol. Kesimpulannya yaitu kulit jengkol sangat berpotensi untuk menggantikan rumput lapang sebagai sumber serat pada ternak domba. Penggunaan kulit jengkol sebanyak 22.5% BK terbukti mampu meningkatkan konsumsi nutrien, kecuali lemak kasar, pada ternak domba. Pemanfaatan kulit jengkol secara optimal sebagai pengganti rumput selain akan mengurangi ketergantungan pada hijauan konvensional yang ketersediaanya terbatas saat musim kemarau, akan menjadi solusi dalam penanganan pencemaran limkungan dari limbah kulit jengkol.