Rustam Yusuf
Universitas Muslim Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN KEDALAMAN SARANG SEMI ALAMI TERHADAP KEBERHASILAN PENETASAN TUKIK PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI RUMAH PENYU KAMPUNG KREASI KECAMATAN SUPPA KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN Andi Sitti Muthia Panguriseng; Kamil Yusuf; Rustam Yusuf
JURNAL ILMIAH WAHANA LAUT LESTARI (JIWaLL) Vol. 4 No. No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Laut Lestari
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan Fakuktas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/d90p1040

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi pengaruh kedalaman sarang semi alami terhadap keberhasilan penetasan penyu lekang (Lepidochelys olivacea) Telur penyu dipindahkan dari sarang alami ke sarang semi alami dengan tiga perlakuan kedalaman berbeda 15 cm : 25 cm, 40 cm dan 55 cm, masing-masing dengan dua ulangan. Parameter lingkungan seperti suhu dan kelembaban diukur secara berkala selama masa inkubasi 46 Hari. Berdasarkan hasil analisis korelasi pearson, diketahui bahwa terdapat hubungan yang berbeda antara masing-masing variabel lingkungan terhadap keberhasilan penetasan telur penyu lekang (L, olivacea). Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembaban memiliki hubungan yang positif dan signifikansi dengan keberhasilan penetsan, dengan nilai koefisien korelasi R = 0.142 dan nilai signifikansi p = 0.009 (P<0.05) Sementara itu, variabel suhu menunjukkan korelasi yang lemah terhadap keberhasilan penetasan telur penyu lekang (L, olivacea), dengan nilai R= 0.049 dan nilai signifikansi p = 0.208 (p > 0.05). Selain itu juga, ditemukan adanya hubungan negatif yang cukup kuat antar suhu dan kelembaban (R = -0.365 ; p = 0.000), yang berarti bahwa peningkatan suhu cenderung diikuti oleh penurunan kelembaban.Kedalaman optimal ditemukan pada 40 cm dengan tingkat penetasan sebesar 87.65%. Hasil ini menyatakan bahwa pengelolaan kedalaman sarang, merupakan faktor kunci dalam konservasi.