Pembelajaran sejarah melalui buku teks memiliki peran krusial dalam membentuk kesadaran historis dan pemahaman peran gender peserta didik. Meskipun Kurikulum Merdeka mengusung semangat inklusivitas, historiografi pendidikan di Indonesia secara tradisional masih didominasi oleh narasi androsentris, sehingga evaluasi kritis terhadap buku teks sejarah menjadi sangat penting untuk membongkar potensi jebakan pseudo-inklusivitas. Tujuan peneliatian ini mengidentifikasi bentuk representasi, menganalisis kedudukan peran, serta mengungkap mekanisme pembatasan agensi tokoh perempuan dalam Buku Teks Sejarah SMA/SMK Kelas XI Kurikulum Merdeka terbitan Kemendikbudristek Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan dengan menerapkan metode analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi menggunakan instrumen lembar pengodean (coding sheet), yang kemudian dianalisis secara logis berdasarkan kerangka Teori Representasi Struart Hall dan Teori Peran Sosial Alice Eagly. Temuan utama menyingkap bahwa praktik marginalisasi beroperasi secara laten melalui tokenisme pada tokoh militer, pembungkaman epistimologis terhadap tokoh intelektual yang pemikirannya direduksi sekadar menjadi takarir (caption) gambar, serta domestikasi peran dan viktimisasi pasif. Lebih lanjut, ditemukan subordinasi spasial dalam arsitektur tata letak teks yang memosisikan pergerakan perempuan sebagai entitas sekunder di bawah narasi laki-laki. Kajian ini memberikan kontribusi teoretis berupa dekontruksi wacana historiografi kritis terhadap perangkat pendidikan nasional. Kesimpulannya, inklusivitas gender dalam buku teks tersebut masih bersifat permukaan dan secara sistemik melanggengkan stereotip patriarkal. Implikasi temuan ini menuntut restrukturisasi anatomi teks secara substantif oleh pemangku kebijakan serta penerapan narasi tandingan (counter-narrative) oleh tenaga pendidik di ruang kelas.