Gusti Ayu Ary Antari
Udayana University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN XEROSTOMIA DAN DISTRES HAUS DENGAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN PADA PASIEN CKD YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD WANGAYA Ni Komang Devasia Giri Sandani; Gusti Ayu Ary Antari; Made Oka Ari Kamayani
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p11

Abstract

Pasien dengan penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis seringkali mengeluhkan mulut kering (xerostomia) dan rasa haus yang menimbulkan distres. Gejala ini dapat menyebabkan Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien meningkat. IDWG yang tinggi juga ditemukan pada pasien hemodialisis di Unit Hemodialisis RSUD Wangaya. Tingginya nilai IDWG ini berhubungan dengan meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara xerostomia dan distres haus dengan IDWG pasien CKD yang menjalani hemodialisis di RSUD Wangaya. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Data dikumpulkan selama bulan Maret-April 2024 di Ruang Hemodialisis RSUD Wangaya. Teknik sampling yang digunakan yaitu metode purposive sampling dengan melibatkan 59 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui kuesioner Summated Xerostomia Inventory (SXI), Thirst Distress Scale (TDS) dan Timbangan berat badan untuk perhitungan IDWG. Data dianalisis dengan Spearman rank’s dengan derajat signifikansi p ≤ 0,05. Sebanyak 33 orang (55,9%) responden memiliki tingkat xerostomia sedang, 34 orang (57,6%) memiliki distres haus sedang dan 37 orang (62,7%) memiliki tingkat IDWG sedang. IDWG yang tinggi pada pasien hemodialisis berhubungan bermakna dengan xerostomia (p = 0,001; r = 0,412), dan distres haus (p = 0,024; r = 0,296). Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian xerostomia dan distres haus berperan penting dalam mencegah kenaikan IDWG yang berlebihan. Perawat hemodialisis diharapkan dapat memastikan dan mempertahankan kepatuhan pasien dalam upaya mencegah xerostomia dan mengontrol rasa haus.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI DI BANJAR BUALU KABUPATEN BADUNG Qurrotul Aini; Desak Made Widyanthari; Gusti Ayu Ary Antari
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p12

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia maupun Indonesia. Hipertensi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, suku, merokok, aktivitas fisik/olahraga, konsumsi natrium, dan konsumsi lemak. Dampak dari hipertensi tersebut terhadap masyarakat yaitu peningkatan komplikasi penyakit, tingginya angka kematian dini, peningkatan ketergantungan layanan kesehatan, dan penurunan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian hipertensi di Banjar Bualu, Desa Adat Bualu, Kuta Selatan, Badung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 91 orang yang diperoleh dari teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan hipertensi tahap I dan II yang terjadi pada penduduk Banjar Bualu sebanyak 20,9%, prehipertensi 50,5% dan responden dengan tekanan darah normal 28,6%. Mayoritas hipertensi terjadi pada responden yang memiliki riwayat keluarga hipertensi (78,7%) dan prehipertensi (23,5%), responden yang tidak aktif melakukan aktivitas fisik/olahraga mengalami hipertensi sebanyak 77,6% dan prehipertensi sebanyak 52,2%. Responden yang mengalami hipertensi dengan kategori mengonsumsi natrium tinggi mengalami hipertensi (30,4%) dan 69,6% mengalami prehipertensi. Responden yang mengonsumsi asupan lemak yang tinggi yang mengalami hipertensi 78,7% dan mengalami prehipertensi sebanyak 58,7%. Faktor risiko kejadian hipertensi di Banjar Bualu banyak terjadi pada responden yang memiliki riwayat hipertensi keluarga, kurangnya aktivitas fisik, asupan natrium dan lemak yang tinggi. Perlu dilakukan suatu upaya tindakan preventif dan promotif untuk mencegah hipertensi maupun perburukan komplikasi.