Penelitian ini mengkaji apakah jumlah sambungan rumah tangga (SR) berkaitan dengan karakteristik air limbah domestik yang masuk ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terdesentralisasi di Pulau Tidung Besar, Indonesia. Kumpulan data mencakup empat zona layanan (Utara, Barat, Timur, dan Selatan) yang diamati setiap tahun dari 2022 hingga 2025. SR diperlakukan sebagai variabel independen, sedangkan pH, BOD5, COD, TSS, minyak dan lemak, amonia, surfaktan anionik (MBAS), klorin bebas, koliform total, koliform feses, dan debit diperlakukan sebagai variabel dependen sesuai dengan ketersediaan data. Meskipun pemantauan dilakukan di inlet dan outlet IPL, studi ini hanya menggunakan data inlet untuk mewakili air limbah yang belum diolah yang masuk ke sistem dan untuk menghindari pengaruh proses pengolahan. Regresi linier sederhana eksploratori dan korelasi Pearson diterapkan pada pengamatan zona-tahun yang digabungkan, dilengkapi dengan validasi silang leave-one-out (LOOCV) sebagai pemeriksaan ketahanan prediksi. Jumlah sambungan rumah tangga meningkat dari 729 pada tahun 2022 menjadi 831 pada tahun 2025. Pada dataset gabungan 2022-2025, korelasi positif tertinggi di antara parameter utama teramati pada BOD5 (r = 0,362) dan COD (r = 0,346), sementara pH (r = 0,061), TSS (r = -0,135), minyak dan lemak (r = 0,216), serta amonia (r = -0,083) menunjukkan hubungan yang dapat diabaikan. Debit menunjukkan korelasi positif rendah dengan nilai yang lebih tinggi (r = 0,446) namun harus ditafsirkan dengan hati-hati karena kemungkinan adanya masalah pada pengukur aliran. Parameter yang diperkenalkan atau dihentikan setelah perubahan regulasi diperlakukan hanya sebagai eksplorasi. Tidak ada hubungan gabungan yang signifikan secara statistik (p > 0,05), dan LOOCV menghasilkan nilai R² prediksi negatif, yang menunjukkan stabilitas prediksi yang buruk. Secara keseluruhan, SR saja bukanlah prediktor yang andal untuk karakteristik air limbah yang masuk.