Geri Agroli
Institut Teknologi Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KONTROL MORFOLOGI TERHADAP KADAR NIKEL PADA KOMPLEKS MELANGE LOK ULO, DAERAH SELOGIRI, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH: GRADIENT MATTERS: MORPHOLOGICAL CONTROL ON NICKEL LATERITE QUALITY IN THE LUK ULO MÉLANGE COMPLEX, SELOGIRI, KEBUMEN REGENCY, CENTRAL JAWA Geri Agroli; Raynald Ariyaputera; Nurcahyo Indro Basuki; Alfend Rudyawan
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 21 No 2 (2026): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v21i2.609

Abstract

Nikel laterit merupakan sumber daya mineral strategis yang pembentukannya dikontrol oleh berbagai faktor, salah satunya morfologi. Penelitian ini ditujukan untuk mengkarakterisasi profil endapan nikel laterit dan mengkaji pengaruh kemiringan lereng terhadap kadar nikel pada batuan ultramafik Kompleks Mélange Luk Ulo di Desa Selogiri, Kecamatan Karangyam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi permukaan pada area seluas 3,4 km², pengeboran manual menggunakan hand auger hingga kedalaman 4,05 m, analisis petrografi enam sayatan tipis, dan analisis geokimia delapan sampel menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Selogiri tersusun atas lima satuan batuan yang berkorelasi dengan Kompleks Mélange Luk Ulo berumur Kapur Akhir. Profil laterit terdiri atas zona tanah penutup (0,90 m), limonit (1,80 m), dan saprolit (1,35 m) dengan pola pengayaan nikel bertipe silikat. Kadar Ni tertinggi ditemukan pada zona saprolit sebesar 0,061%, jauh di bawah ambang batas ekonomis. Intensitas laterisasi tergolong lemah, yang dikendalikan oleh kemiringan lereng yang curam (16°–35°) dan singkatnya durasi keterpaparan batuan induk sejak Plio-Pleistosen. Perbandingan dengan daerah nikel laterit lain di Indonesia menunjukkan korelasi negatif antara kemiringan lereng dan kadar nikel, di mana lereng landai (Kelas III–IV, 4°–16°) menghasilkan kadar Ni lebih tinggi (1,5%–2,5%) dibandingkan lereng curam. Selain kontrol morfologi, faktor tektonik dan durasi laterisasi turut mengontrol kualitas endapan secara signifikan.