This Author published in this journals
All Journal Jurihum
Iren Ramba'
Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Toraja

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Artificial Intelligence sebagai Ruang Pengungkapan Diri dalam Perspektif Bimbingan Konseling Kristen Tata Sanda Limbong; Wanda Mauren Adiningsih; Arnita Ranteallo; Iren Ramba'
JURIHUM : Jurnal Inovasi dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2026): JURIHUM : Jurnal Inovasi dan Humaniora
Publisher : CV. Shofanah Media Berkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam pola komunikasi manusia, termasuk dalam cara individu menyampaikan pikiran, perasaan, pengalaman, dan persoalan pribadi. AI tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana memperoleh informasi, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang untuk bercerita dan melakukan pengungkapan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan AI sebagai ruang pengungkapan diri serta menganalisis fenomena tersebut dalam perspektif bimbingan konseling Kristen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui studi kepustakaan. Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan AI, pengungkapan diri, bimbingan konseling, dan konseling Kristen, kemudian dianalisis secara deskriptif dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan akses, kenyamanan, responsivitas, persepsi tidak dihakimi, kebutuhan untuk didengar, keengganan bercerita kepada manusia, dan persepsi terhadap privasi menjadi faktor yang mendorong individu mengungkapkan diri kepada AI. AI memiliki potensi sebagai ruang alternatif untuk mengekspresikan perasaan, melakukan refleksi awal, mengorganisasi persoalan, dan memperoleh informasi. Namun, AI memiliki keterbatasan karena tidak memiliki pengalaman manusiawi, relasi interpersonal yang nyata, serta dimensi spiritual. Dalam perspektif bimbingan konseling Kristen, AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mendukung proses refleksi dan pengungkapan diri, tetapi tidak dapat menggantikan peran konselor, relasi manusia, dan pendampingan spiritual. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan etika, privasi, batas penggunaan teknologi, serta kebutuhan individu untuk memperoleh pendampingan manusia yang tepat.