Ferry Darmawan
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Roleplayer dalam Membentuk Identitas Virtual di Jejaring Sosial Telegram: Studi Netnografi Ranti Safitri Yuliani; Ferry Darmawan
Bandung Conference Series: Communication Management 269 - 276
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.23760

Abstract

Roleplay practices on Telegram have emerged as a form of digital communication enabling users to construct, negotiate, and sustain virtual identities within online communities; however research specifically examining this social construction process in within roleplay communities on instant messaging platforms remains scarce. This study analyze how roleplayers construct virtual identities, generates collective norms through community interaction, and interpret their experiences.Using a qualitative netnographic approach, the research was conducted within the roleplay base XH community on Telegram. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, digital archives, and field notes from three purposively informants. Findings indicate that virtual identity is constructed through character selection, account attributes, and consistent communication style as a process of externalization. Recurrent interaction gives rise to norms such as the separation the roleplay world from real life, character consistency, and the practices of base and menfess, legitimize virtual identity as a collective social reality. At the internalization stage, roleplayers interpret virtual identity as a medium for social bonding, self-expression, and creativity. This study affirm the relevance of Berger and Luckmann's social construction theory in understanding identity dynamics in digital spaces, while opening avenues for further research into the psychosocial impact of roleplay communities on instant messaging platforms.   Praktik roleplay di Telegram berkembang sebagai bentuk komunikasi digital yang memungkinkan pengguna membangun, menegosiasikan, dan mempertahankan identitas virtual dalam komunitas daring; namun, kajian yang secara spesifik menelaah proses konstruksi sosial identitas virtual dalam komunitas roleplay berbasis platform pesan seperti Telegram masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana roleplayer mengonstruksi identitas virtual, bagaimana interaksi komunitas membentuk norma kolektif, serta bagaimana pengalaman tersebut dimaknai oleh para pelaku. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi pada komunitas roleplay base XH di Telegram. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, arsip digital, dan catatan lapangan terhadap tiga informan aktif yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas virtual dibentuk melalui pemilihan karakter, atribut akun, dan gaya komunikasi yang konsisten sebagai proses eksternalisasi. Interaksi yang berulang kemudian melahirkan norma seperti pemisahan dunia roleplay dengan real life, konsistensi karakter, serta praktik base dan menfess sebagai mekanisme yang melegitimasi identitas virtual sebagai realitas sosial kolektif. Pada tahap internalisasi, roleplayer memaknai identitas virtual sebagai sarana relasi sosial, ekspresi diri, dan ruang kreativitas. Penelitian ini menegaskan relevansi teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dalam memahami dinamika identitas di ruang digital, sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan tentang dampak psikososial komunitas roleplay berbasis platform pesan instan pada masa mendatang.
Strategi Candid Aesthetic dalam Membangun Engagement Audiens pada Akun Instagram @Nsywmeilyn Aliya Maharani; Ferry Darmawan
Bandung Conference Series: Communication Management 887 - 894
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25411

Abstract

This study examines how a Candid Aesthetic strategy is applied on the Instagram account @Nsywmeilyn to build audience engagement, and argues that this relationship is mediated by perceived authenticity and psychological (parasocial) proximity rather than operating directly. Instagram makes visual aesthetics central to communication strategy, yet studies that theorize Candid Aesthetic as a driver of engagement, rather than merely describing it, remain limited. This research uses a qualitative single instrumental case study within a constructivist paradigm. Data were collected through in-depth interviews with the account owner as the key informant and five active followers as main informants selected through purposive sampling, complemented by non-participatory observation and documentation of posts published between January and June 2026, including engagement metrics (likes, comments, shares, saves). Data were analyzed using the Miles and Huberman model, with credibility strengthened through source and technique triangulation. Results show that the account's Candid Aesthetic - vibrant color tones, handwritten-style typography, and point-of-view composition - functions as a form of calibrated amateurism that stages spontaneity while remaining carefully curated. Documentation shows that candid-styled posts consistently receive higher engagement than more formal posts, a pattern corroborated by interview data. The discussion argues that Candid Aesthetic builds engagement indirectly: it first constructs perceived authenticity, which produces psychological proximity between creator and audience, which in turn drives likes, comments, saves, and shares. Candid Aesthetic thus functions not merely as a visual style but as a digital communication strategy mediated by authenticity and parasocial closeness.   Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana strategi Candid Aesthetic diterapkan pada akun Instagram @Nsywmeilyn dalam membangun keterlibatan (engagement) audiens, sekaligus berargumen bahwa hubungan tersebut tidak bersifat langsung, melainkan dimediasi oleh persepsi autentisitas dan kedekatan psikologis (parasosial). Instagram menjadikan estetika visual sebagai elemen sentral dalam strategi komunikasi, namun kajian yang membangun argumentasi teoretis mengenai Candid Aesthetic sebagai pendorong engagement, alih-alih sekadar mendeskripsikannya, masih terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumental tunggal dalam paradigma konstruktivis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik akun sebagai informan kunci dan lima pengikut aktif sebagai informan utama yang dipilih secara purposive, dilengkapi observasi non-partisipatif dan dokumentasi unggahan yang dipublikasikan pada periode Januari-Juni 2026 beserta metrik engagement-nya (likes, komentar, share, save). Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, dengan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candid Aesthetic akun ini - warna vibrant, tipografi bergaya tulisan tangan, serta komposisi point of view - berfungsi sebagai bentuk calibrated amateurism yang mementaskan kesan spontan meski tetap terkurasi secara matang. Dokumentasi menunjukkan bahwa unggahan bergaya candid secara konsisten memperoleh engagement yang lebih tinggi dibandingkan unggahan formal, pola yang dikuatkan oleh data wawancara. Pembahasan berargumen bahwa Candid Aesthetic membangun engagement secara tidak langsung: pertama membentuk persepsi autentisitas, yang kemudian menghasilkan kedekatan psikologis antara kreator dan audiens, yang pada gilirannya mendorong likes, komentar, save, dan share. Candid Aesthetic dengan demikian berfungsi bukan sekadar gaya visual, melainkan strategi komunikasi digital yang dimediasi oleh autentisitas dan kedekatan parasosial.