Yulianti
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengalaman Komunikasi Generasi Z dan Milenial dalam Penyampaian Ide Kerja: Studi Fenomenologi di Telkom Bandung Sabrina Rahmasari; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 1007 - 1016
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.26305

Abstract

Differences in communication characteristics between Generation Z and Millennials in the workplace have the potential to influence the effectiveness of idea sharing and collaboration within organizations. This issue is particularly relevant at Telkom Bandung, a technology-based company where cross-generational interactions are an integral part of daily work activities. This study aims to explore the experiences, meanings, and communication adaptations of Generation Z and Millennial employees in conveying work-related ideas at Telkom Bandung. The study employed a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using qualitative data analysis with source triangulation to ensure the credibility of the findings. The results indicate that cross-generational communication experiences are influenced more by organizational culture, interpersonal relationships, work experience, and communication structures than by generational differences themselves. These factors encourage learning and collaboration rather than conflict. Communication is perceived as a means of building professional legitimacy, fostering interpersonal relationships, facilitating work coordination, and creating psychological safety. Communication adaptation is achieved through adjustments in communication media, language use, the level of information detail, and an open communication culture. The study concludes that cross-generational communication at Telkom Bandung is adaptive and collaborative, enabling the differing characteristics of Generation Z and Millennials to become valuable sources of learning, knowledge sharing, and strengthened collaboration in the communication of work-related ideas.   Perbedaan karakteristik komunikasi antara Generasi Z dan Generasi Milenial di lingkungan kerja berpotensi memengaruhi efektivitas penyampaian ide dan kolaborasi dalam organisasi. Kondisi tersebut menjadi penting untuk dikaji di Telkom Bandung sebagai perusahaan berbasis teknologi yang melibatkan interaksi lintas generasi dalam aktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman, makna, dan penyesuaian komunikasi Generasi Z dan Generasi Milenial dalam menyampaikan ide kerja di Telkom Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan analisis data kualitatif dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman komunikasi lintas generasi lebih dipengaruhi oleh budaya organisasi, hubungan interpersonal, pengalaman kerja, dan struktur komunikasi dibandingkan faktor generasi, sehingga mendorong pembelajaran dan kolaborasi daripada konflik. Komunikasi dimaknai sebagai sarana membangun legitimasi profesional, hubungan interpersonal, koordinasi pekerjaan, dan psychological safety. Penyesuaian komunikasi dilakukan melalui penyesuaian media, bahasa, tingkat detail informasi, serta budaya komunikasi yang terbuka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi lintas generasi di Telkom Bandung berlangsung secara adaptif dan kolaboratif sehingga perbedaan karakteristik Generasi Z dan Generasi Milenial menjadi sumber pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kolaborasi dalam penyampaian ide kerja.
Kepemimpinan Komunikatif Ketua dan Loyalitas Majelis Taklim Nuurun Nisa Kota Cimahi Nadhiira Zahrani; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 1073 - 1080
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25963

Abstract

This study examines the practice of communicative leadership and its relation to the loyalty of administrators in Majelis Taklim Nuurun Nisaa, Cimahi City. The research is motivated by the phenomenon of declining activity and sustainability in many community-based religious organizations, which is often influenced by ineffective leadership communication. Therefore, this study aims to describe how communicative leadership is implemented and how administrator loyalty is formed within the organization.This research uses a quantitative descriptive approach. The research object consists of 17 active administrators selected using a saturated sampling technique. Data were collected through primary sources using a questionnaire instrument with a Likert scale, supported by observation. The data were processed using descriptive statistical analysis, including frequency distribution and percentage calculations.The results show that communicative leadership is implemented very well, particularly in aspects of empathy, openness, and communication clarity. Administrator loyalty is also categorized as high, especially in affective, continuance, and normative commitment. However, loyalty in behavioral aspects, such as role modeling, is relatively less optimal. The findings indicate that effective communication by leaders plays a significant role in strengthening administrator loyalty and organizational sustainability.It is recommended that future research explore this topic using different approaches and broader research objects to obtain more comprehensive findings.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik communicative leadership serta loyalitas pengurus pada Majelis Taklim Nuurun Nisaa Kota Cimahi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya keberlanjutan organisasi keagamaan berbasis komunitas yang seringkali disebabkan oleh lemahnya komunikasi kepemimpinan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memahami bagaimana komunikasi pemimpin dapat membentuk loyalitas anggota dalam organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Objek penelitian adalah 17 pengurus aktif yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui sumber data primer menggunakan kuesioner dengan skala Likert, serta didukung oleh observasi. Data kemudian diolah menggunakan analisis statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa communicative leadership diterapkan dengan sangat baik, terutama dalam aspek keterbukaan, empati, dan kejelasan komunikasi. Loyalitas pengurus juga tergolong tinggi, khususnya pada komitmen afektif, kontinuitas, dan normatif. Namun, pada aspek perilaku seperti keteladanan, masih belum optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif dari pemimpin berperan penting dalam memperkuat loyalitas dan keberlanjutan organisasi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan yang berbeda serta objek yang lebih luas agar memperoleh hasil yang lebih komprehensif.