Minat mahasiswa Indonesia terhadap fashion bekas pakai yang terus tumbuh telah menciptakan pasar yang kompetitif bagi pelaku usaha thirft, yang perlu memahami apa yang benar-benar mendorong transaksi, bukan sekadar menduga bahwa ketertarikan otomatis berujung pembelian. Research gap yang coba dijawab penelitian ini adalah bahwa harga, brand image, dan influencer marketing selama ini kebanyakan diuji sebagai prediktor yang berdiri sendiri, atau diteliti pada kategori produk yang sama sekali berbeda, sehingga belum jelas bagaimana ketiganya bekerja bersama secara khusus dalam konsumsi fashion thirft di kalangan mahasiswa pada kota seperti Bandung. Atas dasar tersebut, riset ini mengevaluasi kontribusi terpisah sekaligus kolektif antara tingkat harga, persepsi merek, dan promosi oleh tokoh media sosial dalam membentuk keputusan pembelian pakaian thirft oleh mahasiswa Bandung. Sebanyak 100 responden ditetapkan menggunakan purposive sampling untuk mengikuti survei kuantitatif. Data hasil pengisian dianalisis memakai model regresi linear berganda setelah residual memenuhi persyaratan kenormalan serta terbebas dari hubungan linear antarprediktor. Keputusan membeli dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh harga serta persepsi terhadap merek. Sebaliknya, promosi yang melibatkan figur media sosial tidak mempunyai dampak mandiri yang signifikan. Apabila diuji secara bersamaan, seluruh prediktor menjelaskan 66% perubahan keputusan pembelian. Temuan (novelty) ini menunjuk pada satu batas efektivitas influencer marketing: pada konsumen mahasiswa yang sensitif harga dan menilai barang bekas secara langsung, harga dan reputasi merek lebih berperan dalam keputusan pembelian aktual, sementara konten influencer tampaknya lebih berfungsi sebagai kanal penemuan dan inspirasi ketimbang pemicu langsung.