Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dari Sampah Menuju Rupiah Menjadi Berkah: Gerakan Pemilahan Sampah Berkelanjutan di Desa Bantarwaru Sri Hartiyah; Hartika Fa’iqotul Nabila; Nayli Ridla Rahmani; Fitria Lailul Muna; Salwa Azizah; Ika Resta Ainan Nafisa; Falsi Azizah; Lidya Kusumawati; Novi Asriyanti; Ardiana Ramadhon; Gais Galang Sukma Wigati Asa Esa; Muhamad Naofal Almas; Hariadi Hariadi; Robby Farih Auladi
JURNAL AKADEMIK PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 4 No. 5 (2026): September
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/japm.v4i5.12603

Abstract

Pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang belum tuntas di banyak wilayah pedesaan Indonesia, padahal sebagian sampah yang dibuang sebenarnya masih memiliki nilai jual apabila dipilah dengan baik. Program pengabdian ini bertujuan membangun kebiasaan pemilahan sampah yang berkelanjutan sekaligus memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga Desa Bantarwaru, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara, yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo. Program dijalankan dengan pendekatan partisipatif berbasis komunitas: warga diajak memilah sampah yang memiliki nilai jual seperti plastik, kardus, dan botol dari sampah rumah tangga, mengumpulkannya setiap Jumat pagi, kemudian menjualnya kepada pengepul pada Jumat siang di hari yang sama. Hasil penjualan tersebut selanjutnya dikelola bersama untuk kepentingan warga. Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, penyediaan wadah pemilahan, pendampingan rutinitas pengumpulan, serta koordinasi dengan pengepul. Pada dua minggu pertama pelaksanaan (14 dan 21 Agustus 2026) dari total periode program 4 Agustus – 12 September 2026, tercatat estimasi sebanyak 20 hingga 32 KK dari total 75 KK sasaran dalam satu RT yang berpartisipasi, dengan estimasi volume sampah terkumpul sekitar 27 hingga 38 kg per minggu dan estimasi kas bersama yang terhimpun sekitar Rp117.000, angka-angka ini bersifat estimasi awal dan akan diverifikasi dengan data lapangan aktual pada laporan akhir. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi warga, kebiasaan memilah sampah yang semakin tertib, serta terbentuknya kas bersama dari hasil penjualan sampah bernilai jual, yang mencerminkan tahap awal ekonomi sirkular berbasis komunitas. Tantangan yang ditemukan antara lain kebutuhan edukasi yang berkelanjutan dan terbatasnya jumlah relawan aktif. Penguatan kapasitas kader, penyederhanaan pencatatan kas bersama, serta perluasan kemitraan dengan pengepul direkomendasikan agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan.