Wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang memiliki kondisi ekologi yang mendukung perkembangbiakan Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan International Health Regulation (IHR) 2005 dan pedoman Kementerian Kesehatan RI, kawasan pelabuhan wajib bebas dari vektor penyakit dalam radius minimal 400 meter dari titik masuk pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik habitat larva, menentukan indeks entomologi, serta menilai status resistensi populasi Ae. aegypti terhadap temefos dan sipermetrin di tiga wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang: Teluk Bayur, Muara Padang, dan Bungus. Pengambilan sampel dilakukan melalui survei wadah/kontainer pada 300 bangunan dan pemasangan 600 ovitrap (perangkap telur nyamuk) secara merata. Uji resistensi terhadap temefos (menggunakan larvasida kimiawi technical grade) dianalisis menggunakan regresi probit untuk memperoleh nilai LC90, sedangkan uji kerentanan nyamuk dewasa terhadap sipermetrin 0,05% menggunakan kertas impregnasi WHO (WHO Collaborating Centre) dilakukan sesuai prosedur WHO Susceptibility test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat perkembangbiakan larva Ae. aegypti dominan ditemukan pada bak mandi terbuka berbahan semen. Nilai House index, Container Index dan Breteau Index mengindikasi risiko penularan sedang dan melebihi ambang batas Kementerian Kesehatan RI. Nilai LC90 temefos berkisar 0,011-0,029 mg/L menunjukan populasi masih rentan, meskipun terdapat indikasi awal toleransi pada wilayah Teluk Bayur. Uji kerentanan terhadap sipermetrin menunjukkan populasi masih rentan dengan mortalitas 100% pada seluruh isolat. Penelitian ini merupakan laporan pertama mengenai status resistensi Ae. aegypti terhadap temefos dan sipermetrin di wilayah buffer Pelabuhan Laut Kota Padang.