AbstrakDesa Bunder, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, dikenal sebagai desa agraris dengan penduduk yang umumnya bekerja sebagai buruh tani, peternak, maupun wirausahawan. Wilayah ini telah berdiri Kelompok Sumber Lungun Farm, dipimpin Bapak Santoso sejak 2024, beranggotakan 15 orang dengan usaha budidaya 150 ekor kambing, sebagian besar anggotanya juga berprofesi sebagai petani. Program pengabdian masyarakat bersama kelompok ini menemukan dua masalah utama: limbah kotoran kambing yang belum dimanfaatkan sehingga mencemari lingkungan, serta ketergantungan petani pada pupuk kimia akibat kurangnya edukasi tentang pupuk alternatif. Solusi yang ditawarkan meliputi penyuluhan pengolahan limbah kambing dengan metode fermentasi, edukasi manfaat pupuk organik, serta pelatihan praktik menggunakan mesin penghalus kotoran untuk menghasilkan pupuk bernilai jual dan penerapannya di lahan pertanian. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota dalam mengolah serta memanfaatkan pupuk organik, membuka peluang diversifikasi usaha melalui produksi dan pemasaran pupuk, serta membangun sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan produktif. Program ini dilaksanakan melalui tiga tahap: koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hasil kuisioner menunjukkan peningkatan pengetahuan (4,7), kemampuan praktik mandiri (4,6), serta manfaat pupuk organik bagi lahan pertanian dengan skor tertinggi (4,8). Aspek pengurangan limbah kambing memperoleh skor (4,5), diversifikasi usaha (4,6), dan keberlanjutan kegiatan (4,4). Kesimpulan kegiatan ini menegaskan efektivitas program dalam menambah wawasan, keterampilan, produktivitas, peluang usaha baru, serta kemandirian kelompok dalam mengelola limbah ternak menjadi produk bernilai tambah. Kata kunci: kotoran kambing; pertanian terintegrasi; pupuk organik. AbstractBunder Village, Kabat District, Banyuwangi, is an agrarian community where most residents work as farm laborers, livestock keepers, or small entrepreneurs. Within this area, the Sumber Lungun Farm group established in 2024 under the leadership of Mr. Santoso consists of 15 members managing 150 goats, many of whom are also farmers. This community service program identified two main issues: unmanaged goat waste that pollutes the environment, and farmers dependence on chemical fertilizers due to limited knowledge of organic alternatives. The program addressed these challenges through training on waste fermentation, education on the benefits of organic fertilizer, and hands on practice using a manure grinding machine to produce marketable fertilizer for agricultural use. The objectives were to enhance members knowledge and skills, create opportunities for business diversification, and promote an integrated, sustainable farming system. Implementation followed three stages: coordination, execution, and evaluation. Questionnaire results indicated significant improvements, with knowledge scoring 4.7, independent practice 4.6, and fertilizer benefits for farmland achieving the highest score of 4.8. Waste reduction scored 4.5, business diversification 4.6, and sustainability 4.4. Overall, the program proved effective in strengthening awareness, skills, productivity, and entrepreneurial opportunities, while fostering group independence in transforming livestock waste into value added products. Keywords: goat manure; integrated agriculture; organic fertilizer.