Partisipasi anak dalam kegiatan Bina Iman Anak Katolik (BIA) Stasi Pringsewu menunjukkan fluktuasi, dengan jumlah kehadiran yang menurun dari sekitar 80 anak pada periode sebelumnya menjadi berkisar 35 sampai 65 anak per pertemuan pada Januari hingga Mei 2026. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi persuasif pembina rohani dalam meningkatkan partisipasi anak strategi psikodinamik, sosiokultural, dan konstruksi makna yang dikemukakan DeFleur dan Ball-Rokeach. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data diperoleh melalui observasi nonpartisipan, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumentasi terhadap empat informan kunci, lima informan utama, dan enam informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa storytelling menjadi medium utama pembina dalam mengoperasionalkan ketiga strategi komunikasi persuasif. Strategi psikodinamik diwujudkan melalui sapaan, tanya jawab, gerak lagu, permainan, serta pemberian kupon atau hadiah untuk membangun perhatian, emosi positif, motivasi, dan keberanian anak. Strategi sosiokultural dilakukan melalui dukungan orang tua, interaksi teman sebaya, pengelompokan berdasarkan usia, kerja sama antar-pembina, dan keterkaitan kegiatan dengan komunitas gereja. Sementara itu, strategi konstruksi makna dilakukan melalui penyederhanaan bahasa, pengaitan cerita Kitab Suci dengan pengalaman sehari-hari, pemberian contoh konkret, dan penggunaan visualisasi. Ketiga strategi tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan membentuk proses persuasif yang bertahap, mulai dari kesiapan psikologis, dukungan sosial, hingga pemaknaan pesan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi persuasif yang adaptif dan kontekstual dapat mendukung peningkatan partisipasi anak secara berkelanjutan dalam kegiatan Bina Iman Anak.