Bukti empiris mengenai keterkaitan kapabilitas keuangan, dukungan kelembagaan, dan kapasitas relasional dengan perilaku keuangan hijau melalui kesiapan masih terbatas pada organisasi pangan berbasis anggota. Berfokus pada koperasi dan kelompok usaha pangan berbasis anggota di Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir, analisis membedakan Green Finance Readiness (GFR) dari Green Financial Behavior (GFB). Survei cross-sectional terhadap 151 responden yang memenuhi kriteria mengukur Financial Management Capability (FMC), Policy and Institutional Support (PIS), Cooperative Relational Capacity (CRC), GFR, dan GFB, dengan hubungan antarkonstruk diestimasi menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS SEM). Kapabilitas keuangan menunjukkan hubungan estimasi yang lebih besar dengan GFR, sementara dukungan kelembagaan tetap berhubungan positif dengan kesiapan. GFR berhubungan positif dengan GFB dan membawa efek tidak langsung positif FMC dan PIS terhadap GFB, sedangkan CRC berhubungan positif dengan GFB, yang menegaskan relevansi pertukaran informasi, kepercayaan, dan kerja sama dalam keputusan keuangan organisasi berbasis anggota. Namun, nilai HTMT dan kolinearitas prediktor yang tinggi menunjukkan lemahnya pemisahan empiris antarkonstruk, terutama antara GFR dan GFB, sehingga klaim mengenai mekanisme yang terpisah dan urutan temporal perlu dibatasi. Temuan menempatkan green finance readiness sebagai penghubung konseptual antara kondisi finansial dan kelembagaan dengan perilaku keuangan hijau, sementara kapasitas relasional menambahkan dimensi berbasis anggota. Green finance pada koperasi pangan dapat dipahami sebagai persoalan pembiayaan yang berkaitan dengan kesiapan organisasi dan koordinasi relasional, dengan kebutuhan pengukuran yang lebih tegas untuk membedakan kesiapan dari perilaku keuangan.