Nur Indah Kalsum
Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SELF-COMPASSION DAN REGULASI EMOSI REMAJA PASCAPERCERAIAN ORANG TUA: STUDI KORELASIONAL PADA SISWA SMA DI KABUPATEN GORONTALO Nur Indah Kalsum; Murhima A. Kau; Khusnul Khatimah; Irvan Usman; Moh. Sarifudin S. Auna
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.15404

Abstract

Parental divorce can be a source of emotional pressure for adolescents, making the ability to regulate emotions important in dealing with post-divorce family conditions. This study aimed to examine the relationship between self-compassion and emotion regulation among high school adolescents with divorced parents in Gorontalo Regency. This study employed a quantitative approach with a correlational design and purposive sampling technique. After data cleaning, 147 students aged 15–17 years were included in the analysis. Self-compassion was measured using a 48-item scale based on the dimensions of self-kindness, common humanity, and mindfulness, while emotion regulation was measured using a 31-item scale based on Gross’s emotion-regulation processes. Data were analyzed using JASP through descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, and Spearman’s rho correlation. The mean self-compassion score was 161.0 (SD = 18.11), while the mean emotion-regulation score was 109.0 (SD = 12.02). The normality test indicated that both variables were not normally distributed (p < .001). Hypothesis testing showed a significant positive relationship between self-compassion and emotion regulation (ρ = .4997, p < .001), with a moderate correlation strength. Therefore, there was a significant positive relationship between self-compassion and emotion regulation among adolescents with divorced parents in Gorontalo Regency. ABSTRAK Perceraian orang tua dapat menjadi sumber tekanan emosional bagi remaja, sehingga kemampuan mengelola emosi menjadi penting dalam menghadapi kondisi keluarga pascaperceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan regulasi emosi pada remaja siswa SMA yang memiliki orang tua bercerai di Kabupaten Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan teknik purposive sampling. Setelah dilakukan pembersihan data, sebanyak 147 siswa berusia 15–17 tahun dianalisis. Self-compassion diukur menggunakan skala 48 aitem berdasarkan aspek self-kindness, common humanity, dan mindfulness, sedangkan regulasi emosi diukur menggunakan skala 31 aitem berdasarkan proses regulasi emosi Gross. Analisis data dilakukan menggunakan JASP melalui statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, dan korelasi Spearman’s rho. Rata-rata skor self-compassion sebesar 161,0 (SD = 18,11), sedangkan rata-rata skor regulasi emosi sebesar 109,0 (SD = 12,02). Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa kedua variabel tidak berdistribusi normal (p < 0,001). Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-compassion dan regulasi emosi (ρ = 0,4997; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Dengan demikian, terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-compassion dan regulasi emosi pada remaja yang memiliki orang tua bercerai di Kabupaten Gorontalo.