Pertumbuhan jaringan komputer dan Internet of Things (IoT) meningkatkan kompleksitas komunikasi data sekaligus memperbesar potensi ancaman keamanan siber, sehingga Intrusion Detection System (IDS) menjadi komponen penting untuk memantau lalu lintas jaringan secara real-time. Penelitian ini menggunakan Snort sebagai IDS dan bertujuan menganalisis serta membandingkan latensi pengiriman notifikasi antara protokol Message Queuing Telemetry Transport (MQTT) dan Telegram Bot. Dibandingkan penelitian terdahulu yang umumnya mengkaji MQTT dan Telegram Bot secara terpisah, penelitian ini menghadirkan pengujian komparatif langsung pada satu rangkaian eksperimen IDS berbasis Snort dengan tiga skenario serangan berbeda, serta melengkapi analisis rata-rata dengan ukuran sebaran data (median, minimum, maksimum, standar deviasi) untuk menggambarkan konsistensi kinerja tiap protokol. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif eksperimental terhadap tiga skenario serangan, yaitu ICMP, Nmap SYN Scan, dan TCP SYN Flood, masing-masing dalam satu sesi pengujian pada lingkungan virtual berbasis VMware Workstation 17 Pro dengan dua mesin virtual Kali Linux. Latensi diukur dari selisih waktu antara alert terdeteksi oleh Snort dan notifikasi diterima pengguna, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif (rata-rata, median, minimum, maksimum, dan standar deviasi). Hasil penelitian menunjukkan MQTT memiliki rata-rata waktu pengiriman alert yang lebih rendah dan lebih konsisten dibandingkan Telegram Bot pada seluruh skenario. Pada serangan Nmap SYN Scan dan SYN Flood, rata-rata latensi MQTT masing-masing 0,15 detik dan 0,38 detik dengan standar deviasi di bawah 0,15 detik, sedangkan Telegram Bot memerlukan rata-rata 41,65 detik dan 47,31 detik dengan standar deviasi di atas 24 detik. Dari sisi Alert Delivery Rate, MQTT meneruskan seluruh alert tanpa kehilangan data, sedangkan Telegram Bot hanya menerima 2,24% alert pada serangan Nmap dan 0,07% pada SYN Flood. Karena analisis pada penelitian ini bersifat deskriptif, istilah “perbedaan besar” pada hasil merujuk pada selisih nilai yang teramati, bukan hasil pengujian signifikansi statistik formal. Berdasarkan hasil tersebut, MQTT lebih sesuai digunakan sebagai media notifikasi pada sistem IDS yang membutuhkan kecepatan dan keandalan tinggi, sedangkan Telegram Bot lebih cocok untuk kebutuhan monitoring dengan frekuensi alert rendah. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan uji statistik inferensial serta protokol pembanding tambahan untuk memperkuat generalisasi temuan.