Nauroh Qurrotal Aini
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Wasathiyyah dalam Tafsir Ibn Katsir dan Al-Mishbah: Kajian Muqarin dan Relevansinya terhadap Radikalisme Beragama Nauroh Qurrotal Aini; Faqih Abdul Aziz; Maziroh Diyati; Maftuhatul Khoiriyah; Rita Andria Ismawati
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 2 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i2.651

Abstract

Radikalisme berbasis agama masih menjadi tantangan serius bagi moderasi beragama di Indonesia, sementara kajian tafsir tentang wasathiyyah sejauh ini cenderung parsial dan jarang dikaitkan dengan respons atas radikalisme kontemporer. Penelitian ini mengkaji bagaimana wasathiyyah dikonstruksi dalam Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir Al-Mishbah serta bagaimana relevansi konstruksi tersebut terhadap persoalan itu. Penelitian merupakan library research dengan metode tafsir muqarin, membandingkan kedua tafsir atas lima ayat: QS. Al-Baqarah [2]: 143, QS. Al-Hujurat [49]: 13, QS. Al-Baqarah [2]: 256, QS. An-Nisa [4]: 171, dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 8. Hanya ayat pertama yang secara eksplisit memuat akar kata wasath; empat ayat lainnya dibaca sebagai representasi nilai-nilai moderasi. Perbandingan diarahkan pada empat indikator: basis otoritas, unit analisis, orientasi makna, dan konteks rujukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufasir bertemu dalam menolak ghuluw, pemaksaan dalam beragama, dan diskriminasi terhadap non-Muslim, serta sama-sama memaknai wasathiyyah sebagai keseimbangan aktif, bukan netralitas pasif. Perbedaannya terletak pada penekanan: Ibn Katsir bertumpu pada riwayat dan asbab al-nuzul sebagai unit analisis tunggal, sedangkan Al-Mishbah menambahkan munasabah dan realitas sosial sebagai unit analisis kedua. Atas dasar itu penelitian ini merumuskan kerangka wasathiyyah tiga dimensi, yakni teologis, sosial, dan sikap terhadap perbedaan, dengan dimensi ketiga diposisikan sebagai produk pertautan dua dimensi sebelumnya. Sebagai penelitian kepustakaan, kerangka tersebut ditawarkan sebagai implikasi konseptual yang berpotensi menjadi basis kontranarasi, bukan sebagai model yang telah diuji secara empiris.