Serlie K. A. Littik
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana, Kupang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM PRE EXPOSURE PROPHYLAXIS DALAM PENCEGAHAN HIV DI PUSKESMAS OESAPA Maria Skolastika Sindy Claudia Toda; Serlie K. A. Littik; Dominirsep O. Dodo
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i2.61608

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program PrEP di Puskesmas Oesapa Kota Kupang berdasarkan teori implementasi kebijakan George C. Edwards III yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi, serta mengidentifikasi faktor penghambat pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri dari 9 orang, yaitu 1 informan kunci (kepala puskesmas), 3 informan utama (penanggung jawab program HIV/AIDS, dokter, dan apoteker), serta 5 informan pendukung (petugas laboratorium dan 4 pengguna PrEP dari kelompok berisiko, yaitu lelaki seks dengan lelaki (LSL) dan wanita pekerja seks (WPS)). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program PrEP di Puskesmas Oesapa secara umum sesuai dengan keempat aspek teori Edwards III: komunikasi kebijakan tersampaikan secara berjenjang, jelas, dan konsisten; sumber daya manusia, fasilitas, dan logistik obat dinilai mendukung pelaksanaan layanan; disposisi pelaksana ditunjukkan melalui komitmen dan sikap non-diskriminatif; serta struktur birokrasi didukung pembagian tugas yang jelas, meskipun SOP khusus PrEP belum tersedia secara terpisah. Sempat terjadi kekosongan stok obat pada tahun 2024, namun hal ini belum mengganggu keberlangsungan layanan secara berarti karena dapat diatasi melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Hambatan yang lebih dominan bersumber dari faktor eksternal, yaitu stigma terhadap HIV, rendahnya keterbukaan kelompok berisiko dalam mengakses layanan, tingginya mobilitas pengguna, serta rendahnya kepatuhan kunjungan ulang.