Kebocoran gas LPG merupakan salah satu penyebab utama kebakaran dan ledakan di lingkungan rumah tangga maupun usaha kecil. Proses pendeteksian kebocoran yang masih mengandalkan indera penciuman atau pemeriksaan secara manual sering kali menyebabkan keterlambatan penanganan sehingga meningkatkan risiko kerugian material maupun korban jiwa. Oleh karena itu, diperlukan sistem pendeteksi yang mampu melakukan pemantauan secara otomatis dan memberikan peringatan dini secara real-time. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan sistem pendeteksi kebocoran gas LPG dan suhu ruangan berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor MQ-6 untuk mendeteksi gas LPG, sensor DHT22 untuk memantau suhu dan kelembaban, serta aplikasi Blynk sebagai media monitoring dan notifikasi. Metode yang digunakan adalah Prototyping karena memungkinkan pengembangan sistem secara bertahap melalui proses evaluasi dan penyempurnaan sesuai kebutuhan pengguna. Pengujian dilakukan pada sepuluh skenario paparan gas LPG untuk mengevaluasi kemampuan sistem dalam mendeteksi kebocoran, mengaktifkan alarm, dan mengirimkan notifikasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor MQ-6 berhasil mendeteksi kebocoran gas dengan nilai analog berkisar antara 465 hingga 4095, dengan threshold sebesar 1700 sebagai batas kondisi aman dan bahaya. Seluruh skenario pengujian berhasil diidentifikasi dengan tepat sehingga sistem mampu mengaktifkan buzzer dan relay sebagai indikator peringatan. Sensor DHT22 mencatat suhu ruangan sebesar 27,5–27,7°C dan kelembaban 88,2–90,7%, yang masih berada di bawah ambang batas sehingga tidak memicu notifikasi suhu tinggi. Data dari kedua sensor berhasil dikirimkan ke dashboard Blynk secara real-time dan notifikasi diterima pengguna melalui aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi ESP32, MQ-6, DHT22, dan Blynk mampu menyediakan sistem pemantauan kebocoran gas LPG yang efektif sebagai upaya deteksi dini untuk meningkatkan keamanan lingkungan.