The digital transformation of banking has shifted marketing communication from conventional persuasion toward ecosystems driven by artificial intelligence (AI), big data, and integrated digital platforms. Banks increasingly convert customer data and digital interactions into highly personalized marketing messages, yet critical scholarship on the power relations this creates remains scarce, leaving customers largely unaware of how far algorithmic systems shape their financial decisions. This study examines how algorithmic hegemony forms within Indonesia's digital banking marketing communication ecosystem through the interplay of AI, big data, and Integrated Marketing Communication (IMC), and proposes a conceptual model explaining how these systems shape, direct, and normalize consumer behavior within algorithmically constructed digital spaces. Using a critical qualitative paradigm that combines digital ethnography, interpretive case study, and critical discourse analysis, data were collected through in-depth interviews with 28 informants (mobile banking users, digital marketing professionals, AI developers, and academics), six months of digital ethnography, and analysis of digital artifacts drawn from Indonesia's banking ecosystem between January and June 2024. Four interrelated themes emerged: behavioral datafication as the foundation of hegemony, algorithmic personalization as a normalizing mechanism, digital manufactured consumer consent, and limited symbolic resistance. The findings show that AI, big data, and IMC jointly construct curated choice environments that predictively shape consumer behavior while normalizing personalization as an everyday social reality, shifting the focus of IMC from persuasion toward data-driven power. The study contributes to debates on algorithmic governance, banking communication ethics, and public algorithmic literacy in Indonesia. ABSTRAK Transformasi digital di industri perbankan menggeser komunikasi pemasaran dari pendekatan persuasi konvensional menuju ekosistem yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), big data, dan platform digital yang terintegrasi. Bank kini mengolah data serta interaksi digital nasabah menjadi pesan pemasaran yang sangat personal, namun kajian kritis mengenai relasi kuasa yang tercipta dari proses ini masih minim, sehingga nasabah sebagian besar tidak menyadari sejauh mana sistem algoritmik membentuk keputusan finansial mereka. Penelitian ini mengkaji bagaimana hegemoni algoritmik terbentuk dalam ekosistem komunikasi pemasaran perbankan digital Indonesia melalui interaksi AI, big data, dan Integrated Marketing Communication (IMC), serta mengajukan model konseptual yang menjelaskan bagaimana sistem tersebut membentuk, mengarahkan, dan menormalisasi perilaku konsumen dalam ruang digital yang terkonstruksi secara algoritmik. Dengan paradigma kualitatif kritis yang memadukan etnografi digital, studi kasus interpretatif, dan analisis wacana kritis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 28 informan (pengguna mobile banking, profesional pemasaran digital, pengembang AI, dan akademisi), etnografi digital selama enam bulan, serta analisis artefak digital dari ekosistem perbankan Indonesia periode Januari-Juni 2024. Empat tema saling terkait ditemukan: datafikasi perilaku sebagai fondasi hegemoni, kekhususan algoritmik sebagai mekanisme normalisasi, persetujuan konsumen yang diproduksi secara digital, dan resistensi simbolik yang terbatas. Temuan menunjukkan bahwa AI, big data, dan IMC bersama-sama membangun ruang pilihan yang sudah dipilih dalam membentuk perilaku konsumen secara prediktif sekaligus menormalisasi kekhususan sebagai realitas sosial sehari-hari, menggeser fokus IMC dari persuasi menuju kekuasaan berbasis data. Penelitian ini berkontribusi pada tata kelola algoritmik, etika komunikasi perbankan, dan literasi algoritmik publik di Indonesia.