Pelayanan Baby Spa merupakan upaya mendukung tumbuh kembang bayi melalui stimulasi dan relaksasi. Pelayanan yang mencakup sistem reservasi, SDM terlatih, fasilitas yang nyaman, serta pelayanan yang lembut dan aman menjadi faktor kunci yang mempengaruhi kepuasan orang tua. Tujuan: Menganalisis pengaruh pelayanan baby spa (cara reservasi, SDM terlatih, fasilitas dan tempat nyaman, pelayanan lembut dan aman) terhadap minat berkunjung ulang serta peran kepuasan orang tua pasien sebagai variabel mediator di Mili Baby Care dan Morena Baby Care Kabupaten Pasuruan. Metode: Penelitian kuantitatif observational analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah orang tua bayi usia 1–24 bulan yang berkunjung ke Mili Baby Care dan Morena Baby Care. Sampel berjumlah 137 responden yang diambil dengan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji regresi linier berganda serta Uji Sobel (Sobel Test) untuk pengujian mediasi. Hasil: Hasil regresi Tahap 1 menunjukkan manajemen pelayanan secara simultan berpengaruh terhadap kepuasan (R = 0,618, R² = 0,382, p < 0,001). Secara parsial, cara reservasi (p = 0,005), SDM terlatih (p = 0,002), fasilitas tempat (p = 0,011), dan pelayanan lembut/aman (p = 0,000) berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan. Hasil regresi Tahap 2 menunjukkan manajemen pelayanan dan kepuasan secara simultan berpengaruh terhadap minat kunjung ulang (R = 0,792, R² = 0,627, p < 0,001). Secara parsial, cara reservasi (p = 0,012), SDM terlatih (p = 0,000), dan kepuasan (p = 0,000) berpengaruh langsung signifikan terhadap minat kunjung ulang. Hasil Sobel Test membuktikan bahwa kepuasan memediasi secara signifikan hubungan antara cara reservasi (Z = 2,48, p = 0,013), SDM terlatih (Z = 2,64, p = 0,008), fasilitas tempat (Z = 2,29, p = 0,022), serta pelayanan lembut/aman (Z = 2,61, p = 0,009) terhadap minat kunjung ulang. Kesimpulan: Kualitas pelayanan baby spa berpengaruh langsung maupun tidak langsung (melalui kepuasan) terhadap minat kunjung ulang orang tua pasien. Pengelola disarankan untuk terus meningkatkan standar mutu keempat dimensi pelayanan tersebut