Yudha Pratama Karjoko
Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pembantaian Massal Timor Timur Dan Rekonsiliasi Hubungan Indonesia – Timor Leste (1975 - 2002) Yudha Pratama Karjoko; Nur'aeni Marta; M. Hasmi Yanuardi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 8 No. 2 (2026): PERIODE : Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berakhirnya pemerintahan Soekarno di tahun 1966 menyebabkan perubahan�perubahan di berbagai sisi, salah satunya adalah cara pandang pro Barat yang diterapkan oleh pemerintahan Soeharto. Stabilisasi hubungan dengan Amerika Serikat membawa Indonesia semakin jauh dari ideologi berpaham kiri yang dulu pernah dijunjung oleh pemerintahan Orde Lama. Paham liberal yang diadopsi oleh Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu tameng dalam menghadapi pengaruh komunis di Asia Tenggara. Dalam kasus Timor Leste, dengan dalih menangkal pengaruh komunis, Indonesia mengirim pasukan dalam Operasi Seroja sesaat setelah negara tersebut mengklaim kemerdekaan dari Portugis. Dalam perkembangannya, Timor Leste (yang kemudian menjadi Timor Timur) menjadi wilayah konflik selama lebih dari dua puluh tahun. Pembantaian silih berganti dilakukan oleh ABRI maupun Fretilin, ratusan ribu nyawa melayang dan sebagian besarnya justru berasal dari warga sipil, bukan kelompok bersenjata. Seiring berjalannya waktu, posisi Indonesia semakin sulit karena Timor Timur terus melakukan perlawanan dan dibayang-bayangi oleh sanksi pelanggaran HAM. Krisis dalam negeri di akhir era Orde Baru perlahan memperlemah kontrol Indonesia atas Timor Timur yang membawa Timor Timur kepada referendum dan memperoleh kemerdekaan penuh di tahun 2002.