Mobilitas mahasiswa pelaju (commuter) dari wilayah Kabupatan Kuningan menuju pusat pendidikan di Kota Cirebon dihadapkan pada dilema pemilihan rute transportasi yang efisien. Terdapat dua opsi jalur utama yang umum digunakan, yaitu jalur via Gronggong dan jalur via Plangon, yang memiliki karakteristik geometris dan kondisi lalu lintas yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan jaringan jalan tersebut kedalam struktur matematika dan menentukan rute paling optimal berdasarkan perbandingan dua variabel bobot: jarak tempuh minimum (km) dan waktu tempuh tercepat (menit). Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan (field observation) untuk menghimpun data bobot sisi, yang kemudian di representasikan sebagai Graf Berarah Berbobot (Directed Weighted Graph) dan diselesaikan menggunakan Algoritma Dijkstra. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rute via Gronggong yang dikombinasikan dengan jalan pintas Talun (Jembatan Merah) mendominasi efisiensi pada kedua parameter. Rute ini menghasilkan total jarak terpendek selama 62 menit. Sebaliknya, rute alternatif via Planggon terbukti kurang efisien dengan total jarak tempuh mencapai 50,7 km dan waktu tempuh 74 menit, akibat inefisiensi jarak pada segmen Mandirancan. Selain perhitungan manual, penelitian ini juga melakukan validasi menggunakan simulasi komputasi bahasa pemprograman Python, yang menghasilkan nilai luaran (output) yang identik. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan jalan pintas Talun adalah solusi optimal (Pareto Optimal) bagi pengendara sepeda motor untuk memangkas jarak dan menghindari kemacetan kota