Kehilangan gigi pada lansia dapat memengaruhi fungsi mengunyah, berbicara, serta kondisi psikologis. Menurut standar World Health Organization (WHO), lansia diharapkan memiliki minimal 20 gigi yang berfungsi. Namun, kenyataannya prevalensi kehilangan gigi pada lansia di Indonesia masih tinggi, mencapai 46,5% pada usia ≥65 tahun. Penggunaan gigi tiruan merupakan salah satu solusi, namun tingkat pemanfaatannya masih rendah. Dukungan keluarga diduga berperan penting dalam mendorong lansia menggunakan gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan penggunaan gigi tiruan pada lansia di Sekolah Lansia Tangguh RW 12 Kelurahan Mojo, Surabaya.Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui angket untuk mengukur dukungan keluarga dan lembar observasi untuk menilai penggunaan gigi tiruan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 60 responden keluarga lansia, sebagian besar memiliki dukungan keluarga kategori rendah yaitu sebanyak 32 responden (53,3%), kategori sedang 17 responden (28,3%), dan kategori tinggi 11 responden (18,3%). Dari 60 lansia yang diteliti, sebanyak 53 lansia (88,3%) tidak menggunakan gigi tiruan dan hanya 7 lansia (11,7%) yang menggunakan gigi tiruan.Penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan penggunaan gigi tiruan pada lansia (ρ-value < 0,05) di Sekolah Lansia Tangguh RW 12 Kelurahan Mojo, Surabaya. Semakin baik dukungan yang diberikan keluarga, semakin besar kecenderungan lansia untuk menggunakan gigi tiruan. Oleh karena itu, dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan pemanfaatan gigi tiruan dan mendukung kualitas hidup lansia. Kata kunci: Dukungan Keluarga, Gigi Tiruan, Lansia.Daftar bacaan: 16 Buku (2018-2025)