Susu merupakan produk hasil ternak bernilai biologis tinggi yang mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan air dalam komposisi yang relatif seimbang. Peningkatan peran strategis komoditas susu dalam ekspor subsektor peternakan Indonesia serta intensifikasi persaingan dengan Malaysia di pasar kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menuntut evaluasi komprehensif terhadap daya saing kedua negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan keunggulan komparatif serta dinamika posisi pasar ekspor susu Indonesia dan Malaysia periode 2019–2023. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan memanfaatkan data tahunan dari Trade Map, World Bank, dan FAOSTAT. Daya saing diukur menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamics (EPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing ekspor susu Indonesia dan Malaysia di pasar Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Singapura mengalami fluktuasi selama 2019–2023. Indonesia menunjukkan keunggulan komparatif yang lebih stabil, khususnya di Brunei Darussalam pada tahun 2023 dengan nilai RCA 41,35, di Hong Kong 1,21, dan di Singapura 0,61, serta didukung oleh peningkatan potensi pertumbuhan yang tercermin dari posisi Rising Star pada indikator EPD. Sebaliknya, Malaysia mengalami penurunan keunggulan komparatif pada tahun 2023, dengan nilai RCA 2,86 di Brunei Darussalam, 0,00 di Hong Kong, dan 1,38 di Singapura. Meski demikian, Malaysia masih memiliki ruang untuk memperbaiki kinerjanya, karena analisis EPD menunjukkan bahwa ketiga pasar tersebut tetap menawarkan peluang pertumbuhan yang dapat dioptimalkan melalui strategi ekspor yang lebih kompetitif. Saran untuk penelitian lanjutan yakni dengan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi perbandingan daya saing ekspor susu Indonesia dan Malaysia.