Muhammad Zia Ulhaq Albana
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ta‘awun dalam Al-Qur’an dan Kritik atas Resiprositas Instrumental: Dialog Tafsir dengan Social Exchange Theory George C. Homans Muhammad Zia Ulhaq Albana; Eni Zulaiha; Asep Ahmad Fathurrahman
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i3.1170

Abstract

Relasi sosial modern kerap dipahami melalui paradigma rasional-instrumental yang menempatkan interaksi manusia sebagai sarana memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian. Paradigma ini tercermin dalam Social Exchange Theory George C. Homans yang menjelaskan hubungan sosial melalui prinsip ganjaran, biaya, dan keuntungan. Berbeda dengan pendekatan tersebut, Al-Qur'an menawarkan konsep ta‘awun sebagai prinsip kerja sama yang berlandaskan kebajikan (al-birr), ketakwaan (al-taqwa), dan orientasi transendental. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep ta‘awun dalam Al-Qur'an, menganalisis karakter resiprositas instrumental dalam Social Exchange Theory, serta mendialogkan keduanya untuk menemukan aspek afirmasi dan kritik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode tafsir tematik (maudhu‘i). Ayat-ayat terkait ta‘awun dianalisis berdasarkan penafsiran mufasir klasik dan kontemporer, kemudian didialogkan dengan Social Exchange Theory melalui pendekatan dialogis-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ta‘awun mengarahkan kerja sama pada kebajikan dan ketakwaan serta melarang kerja sama dalam dosa dan permusuhan. Resiprositas dalam ta‘awun bersifat moral dan transendental, berorientasi pada ridha Allah Swt., pahala, kemaslahatan bersama, dan tanggung jawab etis. Dengan demikian, ta‘awun mengafirmasi pentingnya timbal balik sosial, tetapi mengkritik reduksi relasi manusia menjadi pertukaran kepentingan dengan memperluasnya melalui dimensi etika, spiritual, dan transendental. Konsep ini sekaligus menempatkan hubungan sosial sebagai ruang aktualisasi nilai keagamaan yang melampaui kalkulasi untung-rugi dalam kehidupan sosial bersama manusia.