Transformasi digital telah mendorong organisasi sektor publik untuk mengadopsi kebijakan kerja yang lebih fleksibel guna meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh fleksibilitas kerja terhadap kinerja pegawai, serta menguji peran work-life balance sebagai variabel mediasi pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Banggai. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian terdiri atas 134 ASN yang meliputi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sedangkan sampel sebanyak 100 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis SmartPLS untuk menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Fleksibilitas kerja juga terbukti meningkatkan work-life balance, sementara work-life balance memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Lebih lanjut, pengujian mediasi mengonfirmasi bahwa work-life balance berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara fleksibilitas kerja dan kinerja pegawai. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa efektivitas kebijakan kerja fleksibel akan semakin optimal apabila disertai upaya organisasi dalam memperkuat keseimbangan kehidupan kerja pegawai. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan manajemen sumber daya manusia di sektor publik dengan menegaskan pentingnya integrasi kebijakan Flexible Working Arrangement (FWA), dukungan transformasi digital, dan penguatan work-life balance sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja serta kesejahteraan ASN secara berkelanjutan.