Perkembangan media sosial telah memperluas ruang perjumpaan antarragam bahasa dan mempercepat sirkulasi kosakata di kalangan anak-anak. Dalam konteks tersebut, penggunaan bahasa gaul oleh Generasi Alfa tidak hanya berkaitan dengan pilihan kosakata, tetapi juga dengan cara anak membangun keakraban, menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan, dan menegosiasikan gaya komunikasi dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk bahasa gaul yang digunakan Generasi Alfa di Desa Kabregan, mengidentifikasi motivasi penggunaannya, serta menganalisis implikasinya terhadap praktik kebahasaan dalam lingkungan sosial setempat. Penelitian menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui pengamatan terhadap penggunaan bahasa gaul dalam interaksi anak-anak dan wawancara dengan subjek penelitian, kemudian dianalisis melalui tahapan analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan tiga kecenderungan bentuk bahasa gaul, yaitu modifikasi kosakata bahasa Indonesia, penggunaan dan adaptasi kosakata bahasa Inggris yang beredar melalui media sosial, serta pemendekan atau pembentukan bentuk ringkas dari kosakata bahasa Indonesia. Penggunaannya berkaitan dengan pertimbangan kepraktisan, penerimaan sosial, serta kebutuhan ekspresif dalam interaksi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahasa gaul berfungsi bukan semata-mata sebagai bentuk pemendekan bahasa, melainkan sebagai sumber daya kebahasaan yang memungkinkan penutur menyesuaikan bentuk tuturan dengan konteks, relasi sosial, dan tujuan komunikasi. Dalam perspektif sosiolinguistik, penggunaan bahasa gaul karena itu perlu dipahami secara kontekstual, bukan semata-mata sebagai penyimpangan dari bahasa baku. Namun, intensitas penggunaannya juga menunjukkan adanya potensi perubahan pola pilihan bahasa dalam relasi antargenerasi, terutama ketika bahasa gaul mulai memasuki ranah komunikasi yang sebelumnya didominasi bahasa Jawa.