Matematika sering kali dipersepsikan oleh peserta didik sebagai disiplin ilmu teoretis yang abstrak, kaku, dan terisolasi dari realitas kehidupan nyata serta budaya lokal masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam konsep-konsep matematika sekolah yang terkandung dalam tradisi ketangkasan fisik dinamis Presean masyarakat Suku Sasak di Desa Adat Ende, Lombok, serta merumuskannya ke dalam draf inovasi bahan ajar pengayaan formal. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. Data primer dihimpun melalui observasi partisipatif langsung di arena serta wawancara mendalam bersama informan kunci tokoh adat, praktisi budaya, dan pengrajin instrumen lokal. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa praktik budaya Presean kaya akan pemikiran matematis tersembunyi (frozen mathematics) yang terdekonstruksi secara terstruktur melalui lensa enam aktivitas fundamental Bishop. Dimensi merancang bangun (designing) dan mengukur (measuring) terepresentasi pada morfologi fisis perisai (ende) berbentuk persegi konvergen dengan simetri lipat dan putar, serta tongkat pemukul (penjalin) berbentuk bangun ruang tabung silinder aerodinamis. Aktivitas menempatkan (locating) dan bermain (playing) diwujudkan melalui tata spasial arena lingkaran sempurna, dekomposisi komponen vektor, trigonometri geometri pada sudut penangkisan, dan kinematika kecepatan sudut. Terakhir, aktivitas menghitung (counting) dan menjelaskan (explaining) teridentifikasi melalui transformasi tubuh petarung (pepadu) ke dalam Sistem Koordinat Kartesius Dua Dimensi, regulasi waktu berbasis operasi Aritmatika Modular Ronde 0(mod 5), serta logika implikasi bersyarat algoritma menang mutlak (ropes/bocah). Kesimpulannya, rekonstruksi etnomatematika ini berkontribusi sebagai sumber belajar kontekstual dan landasan bahan ajar untuk meningkatkan literasi numerasi serta mereduksi kecemasan matematis siswa.