Kepemimpinan pastoral dalam tradisi Pentakostal memiliki peran strategis dalam membentuk arah teologis gereja dan menjaga keutuhan doktrin Alkitabiah, namun praktik kepemimpinan kontemporer kerap dipengaruhi oleh pendekatan pragmatis dan filosofis yang tidak selalu berakar pada Kitab Suci. Kondisi ini menimbulkan ketegangan antara pengalaman rohani, otoritas pastoral, dan norma doktrinal yang berpotensi melemahkan fondasi teologis gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filsafat kepemimpinan pastoral Pentakostal serta implikasinya terhadap keutuhan doktrin Alkitabiah melalui kajian literatur teologis yang sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review dengan sumber data berupa artikel jurnal akademik open-access yang relevan dalam lima tahun terakhir, dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi pola konseptual dan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan pastoral Pentakostal secara dominan bercorak karismatik dan berorientasi pada pengalaman Roh Kudus, namun sering kali tidak diimbangi dengan refleksi filosofis-teologis yang memadai, sehingga membuka ruang bagi pergeseran doktrinal. Penelitian ini juga menemukan bahwa lemahnya integrasi antara filsafat kepemimpinan, teologi pastoral, dan otoritas Alkitab berkontribusi pada munculnya konflik, penyalahgunaan otoritas, dan distorsi ajaran. Artikel ini memberikan kontribusi konseptual dengan menegaskan pentingnya doktrin Alkitabiah sebagai tolok ukur normatif dalam pengembangan filsafat kepemimpinan pastoral Pentakostal yang bertanggung jawab dan setia pada dasar iman Kristen.