Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perspektif Mahasiswa Terhadap Fenomena Body Shaming pada Perempuan di Media Sosial Tiktok Sebagai Bentuk Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital Dewi Nuraini
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 9 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/b7np4z41

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah menciptakan ruang publik digital yang memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk mengekspresikan diri. Namun, kebebasan tersebut juga memunculkan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, salah satunya body shaming yang banyak dialami perempuan melalui kolom komentar maupun interaksi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif mahasiswa terhadap fenomena body shaming pada perempuan di media sosial TikTok serta memahami pandangan mahasiswa mengenai body shaming sebagai bentuk kekerasan berbasis gender di ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur kepada mahasiswa pengguna TikTok dan didukung oleh studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah yang relevan. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memandang body shaming sebagai tindakan memberikan komentar atau penilaian negatif terhadap kondisi fisik perempuan yang dapat menimbulkan dampak psikologis berupa menurunnya rasa percaya diri, munculnya rasa insecure, kecemasan sosial, serta tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang berkembang di media sosial. Mahasiswa juga menilai bahwa body shaming terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender karena berkaitan dengan objektifikasi tubuh perempuan, stereotip gender, dan budaya patriarki yang masih berkembang di ruang digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan literasi digital, kesadaran gender, serta etika berkomunikasi di media sosial diperlukan untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman, inklusif, dan menghargai martabat perempuan.