This Author published in this journals
All Journal Lentera Nusantara
Johanis Metanfanuan
Sekolah Tinggi Agama Kristen Bina Muda Wirawan Wonogiri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Gereja Dan Pelayanan Pastoral dalam Gap Generasi Johanis Metanfanuan; Fenti Elisabeth Marabi Djala; Obet Refasi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.556

Abstract

Contemporary churches face a generational gap characterised by differences in faith experiences, communication patterns, participation in ministry, and attitudes towards authority. Digital social changes are widening the divide between Generation X, Millennials and Generation Z in everyday church life. A one-size-fits-all approach to ministry risks undermining relationships, the transmission of faith, a sense of belonging, and unity within the cross-generational Christian community. This study aims to analyse the role of the church and pastoral ministry in bridging the generational gap in a contextual manner. The research employs a descriptive qualitative approach using literature review and theological thematic synthesis analysis. The findings indicate that the generational gap is an ecclesiological challenge that demands dialogue, participation and mutual learning. Intergenerational pastoral ministry strengthens relationships, the transmission of faith, participation in ministry, and the unity of a Christ-centred community. The study concludes that the church needs to reconstruct its ministry from a segregated model towards an intergenerational one that is relational and participatory. Collaborative leadership and contextual accompaniment serve as means of building the unity of the body of Christ across generations. The integration of digital spaces and face-to-face fellowship strengthens the transmission of faith and the maturity of the church community. The novelty of this research lies in the framing of the generation gap as an integrative ecclesiological and pastoral issue. The study also proposes a Christ-centred Intergenerational Pastoral Ministry Model as a framework for contemporary church ministry.AbstrakTugas gereja mengajarkan iman dari generasi ke generasi seperti perintah dalam Ulangan 6:6-7. Namun gereja kontemporer menghadapi gap generasi yang melibatkan perbedaan pengalaman iman, pola komunikasi, partisipasi pelayanan, dan relasi terhadap otoritas. Perubahan sosial digital memperkuat jarak antara Generasi X, Milenial, dan Generasi Z dalam kehidupan bergereja sehari-hari. Pelayanan seragam berpotensi melemahkan relasi, transfer iman, rasa memiliki, dan kesatuan komunitas Kristiani lintas generasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dan pelayanan pastoral dalam menjembatani gap generasi secara kontekstual. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis sintesis tematik teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gap generasi merupakan tantangan eklesiologis yang menuntut dialog, partisipasi, dan pembelajaran timbal balik. Pelayanan pastoral intergenerasional memperkuat relasi, transfer iman, partisipasi pelayanan, dan kesatuan komunitas berpusat pada Kristus. Penelitian menyimpulkan bahwa gereja perlu merekonstruksi pelayanan dari segregatif menuju intergenerasional yang relasional dan partisipatif. Kepemimpinan kolaboratif dan pendampingan kontekstual menjadi sarana membangun kesatuan tubuh Kristus lintas generasi. Integrasi ruang digital dan persekutuan nyata memperkuat pewarisan iman serta kedewasaan komunitas gerejawi. Novelty penelitian terletak pada konstruksi gap generasi sebagai persoalan eklesiologis dan pastoral integratif. Penelitian juga menawarkan Model Pelayanan Pastoral Intergenerasional Berpusat pada Kristus sebagai kerangka pelayanan gereja kontemporer.