Kejang merupakan komplikasi neurologis yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal kronik (PGK), terutama pada stadium lanjut atau yang menjalani dialisis. Gangguan elektrolit dianggap sebagai penyebab utama, namun dalam praktiknya, umumnya bersifat multifaktorial. Tinjauan sistematik ini bertujuan mengevaluasi peran gangguan elektrolit terhadap kejadian kejang pada pasien PGK serta mengidentifikasi faktor lain yang berkontribusi. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar. Sebanyak 11 artikel studi memuat pasien PGK atau gagal ginjal tahap akhir yang melaporkan kejadian kejang disertai data elektrolit diinklusikan. Data yang diekstraksi meliputi stadium PGK, status dialisis, elektrolit serum, parameter uremikum, karakteristik kejang, faktor pencetus yang diduga, serta luaran klinis. Mengingat heterogenitas desain dan pelaporan luaran, hasil dianalisis secara naratif. Hiponatremia dan hipokalsemia merupakan gangguan elektrolit yang paling sering dilaporkan dan berperan sebagai pencetus langsung atau penurun ambang kejang. Namun demikian, faktor lain seperti sindrom disequilibrium dialisis, posterior reversible encephalopathy syndrome, status epileptikus nonkonvulsif, serta neurotoksisitas akibat obat atau toksin lebih konsisten diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya kejang. Pada sebagian besar kasus, gangguan elektrolit ditemukan bersamaan dengan kondisi-kondisi tersebut, bukan sebagai faktor etiologi tunggal. Tinjauan ini menunjukkan bahwa kejang pada penderita PGK kemungkinan disebabkan oleh kombinasi gangguan elektrolit dan metabolik, sehingga tatalaksana kejang pada PGK bersifat komprehensif.